Liputan Investigasi

Kiprah Pelatih Indonesia di Luar Negeri dan Nasib Perbulutangkisan Kita

A. Firdaus    •    10 Agustus 2017 14:42 WIB
bulu tangkis
Kiprah Pelatih Indonesia di Luar Negeri dan Nasib Perbulutangkisan Kita
Agus Dwi Santoso (kelima dari kanan) kini menjabat pelatih kepala di Korea Selatan (Foto: Dok Pribadi)

Gelaran Indonesia Open beberapa waktu lalu bukan hanya menjadi momen para atlet bulu tangkis dunia untuk meraih gelar Super Series. Tapi juga ajang pamer bagi para pelatih asal Indonesia untuk melihat kemampuan atlet binaan mereka di luar negeri.

Sebut saja Hendrawan, Rexy Mainaky, Mulyo Handoyo, Agus Dwi Santoso, dan beberapa mantan atlet bulu tangkis Indonesia lainnya. Mereka justru kini ‘mengabdi’ ke negara lain. Mulyo Handoyo misalnya, ia memilih ikut membantu India dalam merevolusi olah raga bulu tangkis di negeri Bollywood tersebut.

Hasilnya sudah terlihat di mana Srikanth Kidambi mampu meraih gelar Indonesia Open, usai mengalahkan wakil asal Jepang, Kazumasa Sakai. Kidambi berujar kalau dirinya memiliki kecocokan dengan Mulyo Handoyo sehingga menghadirkan getaran yang positif.

"Metode pelatihannya benar-benar sesuai dengan perasaan saya. Dan saya pikir kadang-kadang itu semua tentang waktu. Bila orang yang tepat memasuki hidup Anda pada waktu yang tepat.  Jadi semuanya selaras," ujar Kidambi beberapa waktu lalu.

Klik di sini: Andy Murray Mundur dari Cincinnati Masters

Tak hanya Mulyo Handoyo, kisah sukses mantan atlet bulu tangkis Indonesia juga kini disandang Agus Dwi Santoso. Pria kelahiran Malang ini mencoba mengadu nasib ke Korea Selatan. Bahkan tangan dingin Agus telah dirasakan oleh para pebulutangkis Negeri Gingseng tersebut.

Meninggalkan PB Djarum pada Oktober 2015 karena alasan prinsip, membuat dirinya mencoba melamar ke beberapa negara. Tanggapan pertama datang dari Vietnam pada Maret 2016, tapi lantaran tak ada dana untuk memberangkatkan pelatih dalam mendampingi atlet ke kejuaraan, ia akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan. Meski ia sempat melatih selama dua minggu.

“Saya coba mendatangi mereka untuk melakukan negosiasi. Ada tiga tugas yang harus saya benahi. Mencari pemain muda, membantu mengangkat performa Nguyen Tien Mien dan pemain putrinya supaya di olimpiade tampil lebih baik, dan mendidik dan melatih Nguyen Tien Mien supaya menjadi pelatih yang baik. Kontrak berdurasi tiga tahun. Sayang permintaan saya untuk diberangkatkan mendampingi atlet di setiap kejuaraan. tidak bisa dipenuhi oleh mereka. Kalau seperti itu, saya bilang enggak bisa,” ujar Agus kepada Metrotvnews.com.

Gaji dan Prestasi
Untungnya pada waktu yang nyaris berdekatan, sekira Mei 2016 Agus mendapatkan kabar kalau Korsel sedang mencari pelatih. Saat itu, kepala bidang PBSI, Basri Yusuf dan Rexy Mainaky memintanya untuk mengirimkan surat lamaran ke Pelatnas bulu tangkis Korsel. Lamaran itu langsung direspons oleh pihak Korsel.

Sempat terjadi negosiasi, namun kecocokan begitu cepat terjadi. Tepatnya pada kesempatan pertama Agus dengan pihak Pelatnas Korsel bertemu. Ketika itu tugasnya adalah fokus mengangkat prestasi bulu tangkis sektor putra Korsel.

“Selama hampir empat bulan saya telah dikasih tahu kalau gaji bakal dikirim setelah proses kartu identitas saya di Korea selesai. Ternyata setelah mendapatkannya, ada penambahan nilai gaji lebih dari yg tertera di kontrak. Headcoach menganggap kerja kami bagus dan menganggap kami bisa bekerja sama dalam tim,” akui Agus.
 
Pada awal tahun 2017 pihak Korsel akhirnya mengangkatnya sebagai pelatih kepala dengan membawahi sektor tunggal putra dan putri. Performa yang diangkat Agus bukan sembarang. Ia mampu membantu Korsel mematahkan dominasi Tiongkok dalam enam gelaran terakhir Piala Sudirman. Lewat final dramatis di Gold Coast, Australia, Korsel menang 3-2 atas Negeri Tirai Bambu tersebut.

Kini Agus yang telah menjabat sebagai pelatih kepala, dibantu dua pelatih lokal. Targetnya pun untuk bisa membawa Korsel bersinar dalam Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis yang digelar Agustus ini.

Pasang Harga atau Pengabdian
Dengan kesuksesannya di negeri orang, lantas mengapa Agus tak memilih untuk mengembangkan bakat dari atlet muda Tanah Air? Agus bukan tanpa alasan untuk lebih memilih mengembangkan bakat atlet muda Korsel, ketimbang di Tanah Air. Ia mengakui kalau jodohnya saat ini berada di Korsel.

Agus juga bukan orang asing di Pelatnas PBSI. Ia sempat memoles beberapa atlet tunggal putra Tanah Air. Termasuk mengantarkan Hendrawan merebut medali perak di Olimpiade Sydney 2000 dan juara dunia di Sevilla pada 2001. Selain itu ia juga berbagi kebahagiaan bersama tim Merah-Putih saat menjuarai Beregu Putra Asian Games 1998, serta Piala Thomas 2000 dan 2002.

Klik di sini: Raikkonen Pasrah soal Masa Depannya Bersama Ferrari

Masih menurut Agus, ada perbedaan yang mencolok melatih di Indonesia dengan di luar negeri, tentunya untuk urusan dompet. Ia pun tak mengelak kalau akan mematok harga kepada klub atau negara lain jika ada yang berminat menggunakan jasanya.

“Kalau melatih di luar negeri kami punya standarisasi sendiri. Kalau dengan negara, kami enggak bisa tawar menawar, karena sifatnya pengabdian. Saya yakin kalau semua para pelatih asal Indonesia pasti ingin kok melatih di pelatnas,” jelasnya.

Sikap PBSI
Melihat peran Agus dan beberapa mantan atlet bulu tangkis yang memilih untuk melatih di luar negeri coba ditanggapi oleh Kepala Bidang Pengembangan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti. Baginya, itu adalah hak mereka untuk memilih jalan sebagai pelatih di luar negeri.

“Enggak apa-apa lah, mereka juga kan mencari pekerjaan. Mungkin mereka punya tawaran lebih tinggi di sana, artinya mereka kan bebas untuk bisa memilih. Negara mana yang mau dengan mereka. Jadi buat saya sih sah-sah aja,” terang Susy.

Secara global kondisi tersebut justru bagus untuk persaingan bulu tangkis di dunia. Sebab ada banyak pelatih asal Indonesia yang kini membela banyak negara. Susy juga menilai kalau mereka memiliki potensi yang cukup baik. Bukan hanya sebagai mantan atlet, tetapi juga pelatih. Dengan begitu mereka juga bisa menganggap bulu tangkis sebagai mata penghasilan mereka.

Sebagai bentuk dukungan, PBSI ternyata telah menyiapkan sebuah program kepada pelatih-pelatih Tanah Air, jika memang mereka ingin berkarier sebagai pelatih di luar negeri. Salah satunya dengan mengadakan coaching clinic kepada mereka, agar mendapatkan sertifikat. Kemudian di level mana mereka berlatih atau mungkin dengan standar gaji berapa. Mereka juga akan mempelajari bagaimana membuat program dalam pelatihan.

Senada dengan sikap PBSI, legenda bulu tangkis Indonesia Christian Hadinata juga memberikan pandangannya terkait fenomena ini. Peraih medali emas Olimpiade 1972 Muenchen ini berujar kalau melatih ke luar negeri merupakan hak masing-masing pribadi.

Bahkan itu bisa menjadi tantangan buat atlet dan pelatih di Pelatnas jika bertemu dengan salah satu atlet binaan sepeti Mulyo Handoyo, Agus Dwi Santoso, atau pun Hendrawan.

‘Terlewatkan dan Tidak Dimanfaatkan’
Cuma saja, pria yang akrab disapa Koh Chris ini melihat kalau para mantan atlet bulu tangkis yang sukses melatih di luar negeri, bisa dibilang ‘terlewatkan dan tidak dimanfaatkan’ oleh PBSI.

“Mereka menganggap kalau melatih sudah menjadi bagian dari profesi. Hal itu bisa berangkat dari dua sisi, yaitu orang lain yang membutuhkan mereka atau yang bersangkutan pintar mencari peluang,” ujar Christian.

Melihat hal itu, negara lain terpincut untuk merekrut para mantan atlet bulu tangkis Indonesia. Apalagi status mereka saat masih aktif sebagai pebulutangkis sangat terkenal di mata dunia. Sehingga negara-negara seperti Thailand, India, atau Korsel berani membayar mereka lebih tinggi ketimbang di negeri sendiri.

Klik di sini: Ada Perubahan Skuat Tunggal Putra Jelang SEA Games 2017

“Sejujurnya saya enggak tahu persis berapa pebedaan gaji yang mereka dapatkan. Umumnya itu biasanya sama, apalagi mantan pelatih kita sudah terkenal sebagai seorang atlet sukses.Hendrawan atau Rexy biasanya sangat dihargai karena punya nama besar,” terang Koh Chris.

Mantan atlet bulu tangkis Indonesia yang merantau untuk menyebarkan ilmu mereka ke luar negeri bukan hal baru. Christian mengaku fenomena itu sudah lama sekali terjadi. Tepatnya pada saat salah satu legenda bulu tangkis Indonesia, Tan Joe Hok hijrah ke Meksiko sekira 1969.

“Sudah lama sekali, seingat saya senior saya di bulutangkis Tan Joe Hok pernah melatih di Meksiko. Meski tujuan dia di sana mengambil studi kedokterannya, tapi ia sambil melatih atlet di sana dalam bermain Badminton. Awal mulanya ia di sana dipanggil untuk melakukan sparing. Kemudian menjadi pelatih,” cerita Christian.

Banyaknya pelatih asal Indonesia yang sukses di negeri orang dalam menciptakan atlet bulu tangkis andal, memiliki dua efek positif di mata Christian. Pertama, ini bisa menjadi cambuk buat para pelatih di dalam negeri agar mereka jangan mau kalah. Kedua, tentunya bisa memanaskan persaingan sehingga membuat cabang olah raga bulu tangkis kian pamor di dunia.

Sebab kalau hanya negara itu-itu saja yang mendominasi bulu tangkis seperti halnya Tiongkok atau Denmark, maka, bukan tak mungkin cabang olah raga bulu tangkis takkan dimainkan di Olimpiade.

Cabor Balap Sepeda Fokus Asah Kecepatan
 


(ACF)