Indonesia Masters 2018

Disinggung Soal Kutukan Istora, Begini Respons Tontowi/Liliyana

Kautsar Halim    •    29 Januari 2018 00:44 WIB
indonesia masters
Disinggung Soal Kutukan Istora, Begini Respons Tontowi/Liliyana
Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir (Foto: Medcom/Kautsar)

Jakarta: Ganda campuran terbaik Tanah Air, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, sama-sama mengaku tidak percaya dengan kutukan Istora Gelora Bung Karno. Itu mereka katakan seusai kalah dalam final Indonesia Masters 2018 yang berlangsung di Istora, Minggu 28 Januari.

Tontowi/Liliyana sudah malang melintang di dunia bulu tangkis internasional dan pernah menjadi ganda campuran terbaik dunia. Salah satu prestasi terbaiknya adalah menyabet medali emas Olimpiade dan mencetak hattrick di ajang All England.

Pada tahun lalu, Tontowi/Liliyana berhasil membuktikan diri bahwa mereka bisa berjaya di Tanah Air dengan memenangkan Indonesia Open. Namun itu terjadi di JCC Convention Hall karena Istora sedang di renovasi.

Tepat pada 23 Januari lalu, Istora kelar direnovasi dan event pertama yang digelar di sana adalah Indonesia Masters 2018. Sayangnya, Tontowi/Liliyana malah kalah di final oleh wakil Tiongkok yang lebih muda darinya, yakni Zheng Siwei/Huang Yaqiong.

Baca: Crutchlow Membuka Tes Pramusim di Sepang dengan Gemilang

Tidak ada kesulitan khusus bagi Zheng/Huang ketika menaklukkan pasangan yang akrab disapa Owi/Butet tersebut. Keduanya hanya butuh waktu 33 menit untuk menutup laga dengan skor straight game, 14-21 dan 11-21. Berdasar pantauan medcom.id, itu terjadi karena Tontowi/Liliyana kalah cepat hingga akhirnya sering melakukan kesalahan sendiri.

Berbicara seusai laga, Tontowi/Liliyana mengamini jika lawannya lebih lincah dan memiliki pukulan-pukulan yang lebih mematikan. Selain itu, keduanya tidak memungkiri jika telah salah strategi sejak awal pertandingan.

"Kami sudah melihat pertandingan. Tapi kenyataan di lapangan kerap berbeda. Permainan mereka (Zheng/Huang) sangat cepat. Tapi ke depannya, kami akan pelajari permainan cepat itu," ujar Tontowi mengomentari pertandingan.

"Kalau dari segi umur, tentu kami kalah cepat. Kalau mau menang, strategi harus benar dan pikiran bersih. Kalau enggak, ya kayak tadi. Zheng bisa tampil sangat cepat," timpal Liliyana.

"Saya lebih berani berhadapan dengan Huang karena dia lebih sering menunggu. Namun tadi, malah Zheng yang lebih banyak mengembalikan bola. Semuanya jadi bisa ter-cover oleh Zheng," lanjut Liliyana menjelaskan bahwa ia dan Owi telah salah strategi.

Baca: Johann Zarco Bicara Gelar Juara Dunia MotoGP 2018

Dengan kekalahan ini, artinya Tontowi/Liliyana masih belum bisa memenangkan satu pun turnamen besar ketika terselenggara di Istora. Menanggapi itu, banyak media yang menyebutkan bahwa Tontowi/Liliyana seakan dikutuk saat tampil di venue yang direnovasi untuk Asian Games tersebut. Kendati demikian, keduanya sama-sama membantah telah dikutuk.

"Saya sih nggak percaya begituan. Itu cuma mitos saja. Menurut saya, lawan memang bermain lebih baik saja dalam pertandingan tadi," ujar Tontowi.

"Kami pernah juara di Istora waktu event SEA Games 2011. Itu kan event penting juga. Jadi saya tidak percaya soal kutukan. Buang jauh-jauh pemikiran seperti itu. Mudah-mudahan kami bisa tampil lebih maksimal di Istora saat event Asian Games dan Indonesia Open pada tahun ini," timpal Liliyana menutup.

Para pebulu tangkis Tanah Air menyabet dua gelar di ajang Indonesia Masters 2018 melalui Anthony Sinisuka Ginting (tunggal putra) dan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon (ganda putra). Selain Tontowi/Liliyana, Greysia Polii/Apriyani yang tampil dinomor ganda putri juga takluk di final.


Video: Tanjakan Jadi Hambatan Projo Waseso di Etape 3 Tour de Indonesia 2018

 


(PAT)