China Open 2018: Goresan Emas Anthony Ginting di Negeri Bambu

Gregah Nurikhsani Estuning    •    23 September 2018 13:59 WIB
bulu tangkis
China Open 2018: Goresan Emas Anthony Ginting di Negeri Bambu
Anthony Sinisuka Ginting pontang-panting untuk meraih gelar China Open 2018. (Foto: STR / AFP)

Jakarta: Anthony Sinisuka Ginting sukses menjadi juara China Open 2018 setelah berhasil menumbangkan Kento Momota di partai final. Tunggal putra Indonesia sanggup melewati hadangan berat sejak babak pertama untuk goreskan tinta emas di Negeri Bambu.

Kemenangan yang didapat Ginting sampai bisa berjaya di China Open 2018 tidaklah mudah, bahkan sangat sulit sebenarnya. Lima lawan berat dilibasnya dari babak pertama perlombaan.

Lin Dan menjadi lawan pertama Ginting. Seperti diketahui, pebulu tangkis Tiongkok itu mempunyai segudang pengalaman, di antaranya dua kali juara Olimpiade, lima kali juara dunia, termasuk pula enam kali juara All England.

Setelah melewati hadangan berat Lin Dan, giliran jagoan Denmark, Viktor Axelsen di babak kedua. Hebatnya, Anthony Ginting cuma butuh dua game untuk melaju ke babak perempat final.

Axelsen bukan nama sembarangan di dunia bulu tangkis. Ia merupakan atlet Eropa pertama yang sukses menjadi juara di kejuaraan dunia junior 2010. Selain itu, pada kejuaraan dunia tahun 2017 di Skotlandia, atlet 24 tahun itu juga keluar sebagai juara setelah menumbangkan Lin Dan.

Di babak perempat final, Ginting bersua Chen Long yang sudah dua kali beruntun ia kalahkan pada pertemuan sebelumnya. Lewat tiga game, atlet tuan rumah itu harus tertunduk malu di depan publiknya sendiri.

Lanjut ke semfinal, ganti atlet Tiongkok lainnya yang dihadapi Ginting, yakni Chou Tien Chen. Ini menjadi salah satu laga terberat Ginting karena lawannya merupakan kandidat juara China Open 2018.

Sejumlah catatan impresif digoreskan Ginting usai menjuarai China Open 2018. Kemenangan tersebut menjadikannya pebulu tangkis pertama yang mampu melumat Kento dua kali beruntun.

Itu artinya, Ginting telah mengalahkan seluruh juara dunia dan atau peraih emas olimpiade dari delapan edisi terakhir (2011-2018) untuk berdiri di podium tertinggi China Open 2018.

Selain itu, Ginting menjadi pebulu tangkis Indonesia pertama yang memenangi Super Series Premier/Super750+ yang digelar di Tiongkok.

Ginting juga menjadi tunggal putra non-Tiongkok kedua setelah Sony Dwi Kuncoro (2008 - China Masters Super Series) yang mampu berjaya di Changzhou.

Apa yang didapat Ginting di China Open 2018 ini sekaligus membayar kegagalannya di dua kompetisi sebelumnya, Asian Games 2018 dan Japan Open.

Pada Asian Games 2018 kemarin, menariknya, Ginting kalah dari Chou Tien Chen, yang membuat kemenangan di semifinal China Open 2018 atas lawan yang sama merupakan balas dendam yang manis buat Ginting.

Sedangkan di Japan Open, Ginting terhenti oleh Viktor Axelsen. Lagi-lagi, ia sukses membalaskan dendam di China Open 2018.

Dari 15 laga yang dimainkan Ginting, ia total mengumpulkan 11 kemenangan. Tiga kekalahan didapat di Asian Games 2018, sisa satu lagi di Japan Open.

Video: Indra Sjafri Telah Mengetahui Ciri Permainan Thailand