Malaysia Open Super Series Premier 2017

Dua Ganda Putri Indonesia Gugur di Babak Kedua

Krisna Octavianus    •    06 April 2017 15:28 WIB
bulu tangkis
Dua Ganda Putri Indonesia Gugur di Babak Kedua
Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi lesu ketika dikalahkan pasangan Jepang (Foto: PBSI)

Metrotvnews.com, Kuching: Hasil undian ganda putri di ajang Malaysia Open Super Series Premier 2017 memang kurang menguntungkan untuk wakil Indonesia. Kedua wakil Indonesia harus dihadapkan dengan pemain unggulan pertama dan kedua di babak awal.
 
Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari sudah harus bertemu unggulan kedua yang juga peraih medali perak Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, Kamilla Rytter Juhl/Christinna Pedersen, asal Denmark.
 
BACA: Ini Hasil Undian Piala Davis Indonesia vs Kuwait

Dalam laga yang berlangsung siang ini di Stadium Perpaduan, Della/Rosyita dikalahkan dua game langsung dengan skor 17-21, 13-21. Selang satu pertandingan, di lapangan yang sama, giliran Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi yang dihadang unggulan pertama dari Jepang, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi dengan skor 17-21, 22-24. 
 
Meskipun kalah, Anggia/Ketut tampil cukup baik dan beberapa kali punya peluang untuk memenangi pertandingan. Akan tetapi, lawan yang merupakan peraih medali emas di Olimpiade 2016 Rio de Janeiro ini masih terlalu tangguh untuk mereka.
 
"Secara keseluruhan, penampilan Della/Rosyita enggak seperti biasanya, banyak error, pasif, dan kurang inisiatif. Ada faktor X yang membuat Della/Rosyita tidak maksimal dan itu akan jadi evaluasi buat Della/Rosyita. Kalau lagi tidak enak situasinya harus bagaimana cari jalan keluarnya?" jelas Eng Hian, Kepala Pelatih Ganda Putri PBSI.
 
"Anggia/Ketut cukup bagus bisa memberikan perlawanan ke pasangan ranking satu dunia. Tetapi tetap perlu evaluasi, walaupun sudah memimpin, tapi kenapa bisa stuck di poin itu? Dari konsentrasinya atau apa? Saya lihat dari game pertama, kondisi mentalnya yang belum kuat, saat bisa menang, disitu ada pressure, seharusnya kan pressure bukan di mereka, tetapi di lawan," tambahnya.
 
"Inilah namanya perbedaan jam terbang, lawan mainnya konsisten dan stabil. Jarang membuat kesalahan sendiri. beda dengan pasangan kita (Indonesia), error-nya masih ada, jadi lawan bisa dapat poin dari kesalahan kita," pungkas Eng.
 
BACA: Vinales Lebih Berhati-hati Jelang GP Argentina

Sementara itu, Indonesia juga harus kehilangan satu wakil di sektor tunggal putra. Tommy Sugiarto belum mampu menahan laju Son Wan Ho (Korea), ia dikalahkan dalam dua game langsung, 15-21, 15-21. (PBSI)

 


(KRS)