PBSI Vonis Empat Atlet yang Terlibat Pencurian Umur

Kautsar Halim    •    09 Maret 2017 18:39 WIB
bulu tangkis
PBSI Vonis Empat Atlet yang Terlibat Pencurian Umur
Sejumlah pebulutangkis dunia melakukan latihan dan ujicoba lapangan Kejuaraan Dunia Total BWF World Championship 2015 di Istora Senayan. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) bertekad memerangi kasus pencurian umur yang kerap terjadi di Tanah Air. Demi mengatasi kendala itu, mereka bahkan tak segan-segan memberikan sanksi skorsing.

Sementara ini, sudah ada empat atlet muda yang terdeteksi terlibat pencurian umur. Mereka adalah Tabita Christian (PB Hiqua Wima Surabaya), Cahya Kristian Banjarnahor (PB Jayaraya Abadi Probolinggo), M. Farhan S dan Dhiva Ramadhan (PB Djarum Kudus). 
 

Klik: Niki Lauda Sebut Ferrari Lebih Cepat daripada Mercedes


Tabita Christian dan Cahya Kristian Banjarnahor diskors tidak boleh mengikuti kejuaraan resmi PBSI selama 24 bulan karena terbukti memalsukan dokumen kelahiran dan memudakan usia hingga setahun.

Dhiva Ramadhan dan M. Farhan mendapat skorsing lebih lama, yakni 36 bulan. Keduanya, terdeteksi melakukan manipulasi dokumen kelahiran dan menggunakan register akte kelahiran atas nama orang lain.

Seperti dijelaskan Kepala Bidang Keabsahan dan Sistem Informasi PP PBSI,  Rachmat Setiyawan, sanksi tegas sengaja dijatuhkan karena bisa mengganggu pembinaan usia muda di Indonesia. Ia khawatir pemalsuan identitas bisa mengganggu perkembangan atlet muda lainnnya.

“Jika usia atlet tidak teridentifikasi dengan benar, bisa-bisa program latihan yang diberikan juga tidak benar dan ini sangat tidak baik untuk pembinaan bulu tangkis Indonesia saat ini dan kedepan. Kami di sini akan berbuat adil dan melindungi atlet yang jujur akan usianya, demi kepentingan nasional,” ujar Rachmat dalam rilis yang diterima Metrotvnews.com, Kamis (9/3/2017).


Klik: Praveen Jordan/Debby Susanto Tersingkir dari All England 2017


Dengan adanya temuan ini, Rachmat melanjutkan, PBSI akan semakin ketat ketika menyeleksi data diri tiap atlet yang ingin mengikuti turnamen resmi. Oleh karena itu, nantinya tiap atlet wajib melampirkan akte kelahiran, kartu keluarga dan ijazah. Selain itu, PBSI juga berhak meminta surat keterangan lain jika masih ragu.

Untuk mempermudah persebaran informasi, PBSI juga bakal memanggil perwakilan dari klub-klub besar di Indonesia, misalnya Djarum, Tangkas, Jaya Raya, Exist, Mutiara, SGS. Tujuan itu tak lain hanya untuk mencari bibit-bibit berbakat yang bakal ditempatkan di Pelatnas untuk memperkuat Indonesia.

“Kami berharap seluruh pihak dapat bekerjasama dengan baik dan mendukung langkah-langkah PBSI. Jika tidak, PBSI bisa menjerat orang tua atlet, pelatih atau pengurus klub yang nantinya bisa berlanjut dengan proses tuntutan pidana,” tutup Rachmat. (RO)





(ACF)