Team Order Ferrari

Sejumlah Kasus Team Order yang Mencoreng Dunia F1

A. Firdaus    •    29 Mei 2017 13:57 WIB
f1 2017
Sejumlah Kasus Team Order yang Mencoreng Dunia F1
Michael Schumacher dan Rubens Barrichello (Foto: ESPN)

Metrotvnews.com, Monte Carlo: Pada GP Monaco Minggu 28 Mei, Ferrari terlibat aksi yang dianggap sebagai team order. Mereka diduga membuat keputusan agar Kimi Raikkonen yang sebelumnya memimpin lomba, harus merelakan posisinya kepada Sebastian Vettel.

Tim asal italia itu dinilai lebih memprioritaskan Vettel yang berpeluang menjadi juara dunia musim ini, ketimbang Raikkonen. Maklum, Ferrari belum pernah menjadikan pembalapnya sebagai juara dunia sejak 2007. Kini dengan memenangi GP Monaco, paling tidak Vettel unggul 25 poin dari pesaing terdekatnya, Lewis Hamilton.

Berkaca pada kejadian di atas, team order atau perintah tim sudah menjadi bagian dari Formula 1 sejak pertama kali digelar pada 1950. Kebanyakan tim menggunakannya untuk para pembalapnya yang sedang berjuang meraih gelar juara dunia.

Klik di sini: Kerber Catat Hasil Memalukan di French Open 2017

Tapi kali ini mereka melakukannya dengan cara modern. Para pembalap bukan hanya menyingkir atau memberikan jalan kepada rekan setimnya. Tapi juga tak jarang pembalap diminta menyerahkan mobilnya ke pimpinan tim.

Dulu team order merupakan sesuatu yang legal. Tapi pandangan itu tidak bertahan. Setelah hampir setengah abad, akhir 1990 dan awal 2000-an, 'perintah tim' menjadi kata-kata kotor. Bahkan pada satu dekade terakhir, hal itu beralih menjadi noda olahraga, memalukan, dan membuat citra F1 menjadi buruk.

Menilik ke belakang, ternyata ada beberapa kejadian team order yang dianggap paling memalukan. Tentunya kejadian itu melibatkan para pembalap dunia, salah satunya Michael Schumacher.

-GP Australia 1998
McLaren merupakan salah satu tim yang diperhitungkan, namun terpuruk dalam beberapa tahun terakhir. Kekuatan mereka terjadi menjelang musim 1997 dan untuk pertama kalinya MP4/13 didesain langsung oleh Adrian Newey.

Tapi kejadian memalukan mencoreng McLaren pada GP Australia 1998. Mika Hakkinen yang meraih pole position bersanding dengan David Coulthard. Sementara Schumacher berada di posisi ketiga.

Sebelum lomba dimulai, McLaran mengeluarkan kesepakatan bahwa siapa pun (di antara Hakkinen dan Coulthard) yang lebih dulu masuk ke tikungan pertama akan diizinkan untuk memenangi lomba. Hal tersebut dilakukan karena McLaren tahu kekuatan mereka. Namun dunia tak pernah tahu tentang kesepakatan itu.

Ternyata Hakkinen yang lebih dulu masuk ke tikungan. Melebarkan jarak dan nyaris sempurna. Tapi kesalahpahaman di radio menyebabkan pembalap asal Finlandia masuk pit di lap 35. Coulthard pun memimpin dan berada di jalur kemenangan.

Namun beberapa lap menuju garis finis kejadian mengejutkan terjadi. Coulthard melambat di trek lurus, untuk membiarkan Hakkinen menyentuh garis finis terlebih dahulu. Usai lomba, publik pun mengetahui kalau kesepakatan tersebut telah ada.

-GP Austria 2002
Ferrari tiba di Austria dengan cukup dominan. Schumi memimpin 21 poin lantaran memenangkan empat dari lima balapan pertama. Ferrari juga mengincar juara konstruktor pada musim itu.

Sangat jelas kalau saat itu Ferrari memiliki mobil terbaik dan pembalap terbaik. Schumacher ditetapkan untuk meraih gelar juara dunia ketiganya berturut-turut.

Sayangnya, tidak jelas bagi mereka yang berada di Maranello. Barrichello meraih pole position. Dia bergabung di barisan depan bersama Ralf Schumacher dari Williams. Sementara, Schumi di urutan ketiga.

Membuat awal yang baik, Barrichello memimpin di tikungan pertama dan melaju dengan sempurna. Tetap dalam dua periode safety car dan dua pit stop, pembalap asal Brasil tersebut kian di ambang kemenangan pertama pada musim itu.



Tapi di balik layar, sisi gelap Ferrari sedang bekerja. Barrichello memimpin sepanjang putaran terakhir, namun detik-detik jelang garis finis, Ferrari memberikan team order untuk Barrichello mengendurkan gasnya dan membiarkan Schumacher meraih kemenangan.

Kedua pembalap itu tak senang dengan situasi tersebut. Sebagai ungkapan, Schumacher menolak berdiri di puncak podium yang diperuntukkan bagi pemenang.

Menariknya, pada GP Amerika di tahun yang sama, Schumi membalasnya dengan memberikan Barrichello kemenangan. Hebatnya jarak waktu keduanya mencatatkan rekor, karena Barrichello hanya unggul 0.011 detik di garis finis.

Klik di sini: Team Order Ferrari yang Membuat Raikkonen Frustrasi

-GP Singapura 2008
Renault terbukti melakukan strategi kotor dengan menyuruh pembalapnya, Nelson Piquet melakukan kecelekaan. Upaya itu untuk membantu rekan setimnya, Fernando Alonso agar bisa menjuarai GP Singapura.

Padahal saat start, Alonso hanya memulai lomba dari posisi ke-15, lantaran mengalami masalah teknis di kualifikasi kedua. Strategi berjalan sukses kecelekaan Piquet mengakibatkan keluarnya safety car. Keadaan itu membuat peluang Alonso menyalip beberapa mobil di depannya hingga akhirnya pembalap asal Spanyol itu memenangkan lomba.

Namun team order itu berujung pada penyelidikan FIA. Kepala tim Renault, Flavio Briatore menerima larangan seumur hidup dari F1 dan direktur teknik Pat Symonds mendapat larangan lima tahun, karena melakukan dengan segaja kecelakaan yang dilakukan Piquet.


(ACF)