Profil Tim F1 2018: Haas

Gregah Nurikhsani Estuning    •    23 Maret 2018 05:42 WIB
formula 1
Profil Tim F1 2018: Haas
Dua pembalap Haas, Romain Grosjean dan Kevon Magnussen. (Foto: AFP PHOTO / JOSE JORDAN)

Jakarta: Haas siap meramaikan Formula 1 (F1) musim 2018. Meski berstatus 'bayi', tim yang baru melakoni debut pada tahun 2016 itu tak bisa dipandang sebelah mata karena memiliki Romain Grosjean dan Kevub Magnusen sebagai dua pembalap andalan.

Tim yang bermarkas di Amerika Serikat dan juga Inggris itu sebenarnya berencana muncul pada F1 tahun 2015 silam, namun ditunda setahun kemudian. Haas F1 sendiri dibentuk pada April 2014 oleh NASCAR Monster Energy Cup Series dan Gene Haas sebagai co-owner.

Jauh sebelumnya, yakni pada 2010, Haas sempat mengirimkan proposal untuk ikut berkompetisi di F1, tapi ditolak karena kurang memenuhi syarat dari segi struktur. Ambisi kuat keluarga Haas akhirnya tercapai menyusul kolapsnya Marussia F1 pada 2014 lalu.

Klik: Profil Tim F1 2018: Renault

Pada race pembuka di Australian Grand Prix musim 2016, Grosjean berhasil finis di tangga keenam dan memperoleh delapan poin untuk timnya. Itu menjadi tonggak sejarah tersendiri karena untuk pertama kalinya konstruktor dari Amerika Serikat medapatkan poin pada race F1 perdananya.

Secara keseluruhan, Haas memang tidak begitu menonjol dibanding tim-tim lain seperti Mercedes misalnya. Tapi gebrakan mereka melalui Grosjean di musim 2016 patut diacungi jempol karena lima kali menembus 10 besar.

Klik: Profil Tim F1 2018: Red Bull Toro Rosso

Senada, pada musim berikutnya, Haas juga belum sanggup berbicara banyak. Perubahan driver dari Esteban Gutiérrez menjadi Kevin Magnussen tidak memberikan perubahan.

Kendati begitu, duet dua pembalap itu cukup merepotkan. Total, keduanya menembus 10 besar sebanyak 13 kali.

Romain Grosjean

Lahir di Genoa dengan ayah orang Swiss dan ibu orang Prancis, Grosjean terbilang telat ketika memantapkan diri terjun ke dunia balap, yakni pada usia 14. Bakat tak bisa diprediksi, tiga tahun merangkak dari gokar sampai akhirnya berkompetisi di Formula Renault, ia sukses meraih enam kemenangan dan keluar sebagai juata umum Swiss Championship.

Kegemilangannya berlanjut dengan meraih trofi French Formula Renault pada tahun 2005. Renault lalu kepincut dengan potensi besarnya, hingga tahun 2006, ia promosi menjadi pembalap pemula dan menjajal Formula 3.

2008, ia naik kelas ke GP2. Ia sukses memenangi seri Asia untuk tim Renault F1. Tak butuh waktu lama, Renault mengangkatnya ke im utama dan langsung berpartner dengan Fernando Alonso pada Agustus 2009.

Kevin Magnussen

Memiliki darah pembalap dari sang ayah (Jan Magnussen), Kevin memulai karier balapnya dari gokar, sama seperti Grosjean. Saat usianya 15 tahun, ia tampil memukau karena sanggup memenangi 11 race dari total 15 seri pada ajang Formula Ford.

Tahun 2014, ia membuat geger pecinta F1 karena berhasil finis di podium kedua seri Australia pada debutnya bersama McLaren. Sayang, ia harus 'menalah' kepada Fernando Alonso yang datang untuk diduetkan dengan Lewis Hamilton pada tahun 2015.

Musim 2015 ia hampir saja melakukan keputusan kontroversial. Mendapati posisinya direbut Alonso, Magnussen nyaris bergabung ke IndyCar untuk musim 2016. Tapi Renault kemudian datang menawari kontrak.

Performanya di Renault tidak begitu cemerlang karena faktor non-teknis; Renault mengalamai kesulitan keuangan. Magnussen sempat diduetkan engan Jolyon Palmer, tapi akhirnya pada 2017 kontraknya tidak diperpanjang dan akhirnya resmi bergabung dengan Haas.

Video: Peran Pelatih Fisik Bagi Pembalap
 


(ACF)