F1 Brasil

Ban Basah Pirelli F1, Kini Rawan Aquaplaning

Ahmad Garuda    •    14 November 2016 16:38 WIB
f1 brasil
Ban Basah Pirelli F1, Kini Rawan <i>Aquaplaning</i>
Ban Pirelli kini mudah mengalami efek aquaplaning. XPB Images

Metrotvnews.com, Brasil: Banyaknya pembalap yang mengalami kecelakaan di Formula One (F1) Brasil pada Minggu (13/11/2016), dinilai sebagai salah satu kelemahan yang ada di ban Pirelli. Menurut Kimi Raikkonen, ban yang ada sekarang khususnya tipe basah, tak bisa membuang lebih banyak air.

Akibatnya dalam kecepatan tertentu, mobil mobil akan rawan mengalami efek aquaplaning. Kondisi ini terbukti di F1 Brasil dengan banyaknya pembalap terhempas ke tembok pembatas sirkuit. Termasuk Raikkonen yang akhirnya tak dapat melanjutkan balapan karena mobilnya rusak parah.

"Saya juga tidak mengerti kenapa ban sekarang sangat gampang mengalami gejala aquaplaning. Padahal saat turunnya hujan di Sirkuit Interlagos, tidak terlalu deras. Kami juga sudah menyampaikannya beberapa kali, tapi sepertinya tergantung juga di sirkuit mana kami balapan. Jika dikomparasi dengan 10-12 tahun lalu, ban yang kami gunakan dulu tak pernah bermasalah dengan efek aquaplaning. Sekarang, itu malah jadi isu besar. Coba saja kalau intensitas hujan lebih besar, saya rasa ban mobil takkan menapak lagi!" prediksi Kimi Raikkonen.

Bukan hanya Kimi yang memprotes buruknya performa ban tipe basah yang dipasok Pirelli. Pembalap tim HAAS Racing, Romain Grosjean juga mengeluhkan hal yang sama. Apalagi Ia juga mengalami kecelakaan parah saat balapan di F1 Brasil kemarin.

"Setelah kami melakukan pengecekan data mobil secara mendalam, tidak ada masalah. Lalu kami melihat pembalap lain juga mengalami masalah yang sama. Makanya kami mengambil kesimpulan bahwa masalah terbesar kami saat ini terletak di bagian ban. Mereka harus melakukan improvisasi Ban tipe basah ini agar tidak membahayakan pembalap," timpal Grosjean.

Asumsi tentang pengutamaan performa (kecepatan di trek basah) agar tidak jomplang dengan lap time di trek kering, pun dituding sebagai biangnya. Padahal target utama yang tak boleh dilupakan adalah sisi safety pembalap dari faktor ban.


(UDA)