Jelang MotoGP 2018

Perbedaan Stoner dengan Lorenzo versi Mekanik Ducati

Kautsar Halim    •    21 Desember 2017 16:55 WIB
motogpmotogp 2017
Perbedaan Stoner dengan Lorenzo versi Mekanik Ducati
Pembalap Ducati, Jorge Lorenzo. (AFP PHOTO / MOHD RASFAN)

Bologna: Juara dunia MotoGP tiga kali, Jorge Lorenzo, punya cara kerja yang berbeda dengan Casey Stoner. Itu dikatakan langsung oleh Cristian Gabarrini yang bertindak sebagai Kepala Kru Ducati.

Mekanik asal Italia itu merupakan sosok penting dibalik kesuksesan Stoner. Ia pernah di Ducati untuk membantu Stoner menjuarai musim 2007, dan ikut pindah ke Honda saat Stoner memenangkan musim 2011.

Setelah Stoner pensiun pada 2012, Gabarrini memilih menetap di Honda untuk menjadi mekanik Jack Miller untuk tim Marc VDS. Namun tahun ini, ia sudah kembali ke Ducati untuk menyokong Lorenzo.


Klik: Finis Kesembilan di Akhir Musim, Crutchlow Sisakan Sesal


Evaluasi Gabarrini terhadap performa Lorenzo tentu sangat penting. Pasalnya, pembalap Spanyol itu baru saja mendapat pengalaman terburuknya ketika menyelesaikan MotoGP 2017 bersama Ducati.

Seperti diketahui, Lorenzo hanya finis di urutan tujuh dengan koleksi 137 poin. Ia kalah jauh dengan rekan setimnya, Andrea Dovizioso, yang sukses finis di urutan kedua dan mampu bersaing dengan sang juara, Marc Marquez. 

"Semua orang mengatakan bahwa bakal sangat sulit untuk bekerjasama dengan Jorge. Tapi, itu tidak benar," kata Gabarrini tentang sikap Lorenzo selama bergabung dengan Ducati.

"Jika Anda bisa menjelaskan kepadanya tentang apa yang terjadi, maka dia akan mendengarkan dan memberikan alasannya. Dari situ dia bisa berkomentar setuju atau tidak setuju," tambahnya.


Klik: Perusahaan Minyak dan Gas Sponsori MotoGP Thailand


Kendati demikian, bukan berarti tidak ada perbedaan antara Lorenzo dan Stoner. Bagi Gabarrini, Stoner masih lebih baik ketika beradaptasi dengan motor, sedangkan Lorenzo merupakan sosok yang sangat peka.

"Casey pembalap yang alami. Dia hanya butuh beberapa tikungan untuk memahami sesuatunya, dan cenderung tidak perlu melakukan banyak putaran di lintasan," ujar Gabarrini.

"Jorge kurang menggunakan insting balapannya dan lebih banyak mengandalkan metode kerja. Namun, dia sangat teliti, cermat dan sensitif dengan kondisi motornya," tambahnya. 

Lorenzo pernah menjadi juara dunia MotoGP pada 2010, 2012, dan 2015. Namun itu terjadi ketika ia masih bersama tim Yamaha. Ia baru mulai kesulitan berprestasi setelah bergabung dengan Ducati pada akhir musim 2016. (motorsport.com)




(KAU)