Asian Para Games 2018

Pembuktian Sapto Yogo Purnomo yang Pernah Dikucilkan

Kautsar Halim    •    09 Oktober 2018 00:00 WIB
Asian Para GamesBintang Arena Asian Para Games 2018
Pembuktian Sapto Yogo Purnomo yang Pernah Dikucilkan
Sapto Yogo Purnomo-Medcom.id/Kautsar

Jakarta: Napasnya masih terengah-engah saat ditemui Medcom.id di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin 8 Oktober 2018 malam. Saat itu, dia memang baru menyelesaikan lomba lari nomor 200m T37 putra untuk ajang Asian Para Games 2018.

Perjuangan kerasnya langsung terbayarkan usai finis paling depan lewat catatan waktu 23,76 detik. Sapto telah mengalahkan tujuh pelari lainnya yang berasal dari Tiongkok, Iran, Irak, Arab Saudi dan Thailand.

Pencapaian tersebut bisa dibilang kejutan karena nomor unggulan Sapto adalah 100m putra T37. Selain itu, catatan waktu yang ditorehkan telah sukses mematahkan rekor terbaik miliknya sendiri.

Baca juga: Suparniyati, Anak Penjual Tempe yang Jadi Ratu Tolak Peluru Asia

"Sebetulnya saya hanya menargetkan perak untuk nomor 200m. Jadi, kaget juga bisa menang dengan catatan waktu hari ini. Sebelumnya, catatan waktu terbaik saya hanya 24,22 detik," ujar Sapto yang baru pertama kali ikut Asian Para Games 2018.

Sapto yang kini berusia 20 tahun adalah satu dari ribuan atlet disabilitas yang berpartisipasi di ajang Asian Para Games 2018. Kaki kanan dan tangan kanannya mengalami gangguan gerakan, otot dan postur sejak dirinya masih bayi berusia tiga bulan. Dunia medis menyebut kelainan Sapto dengan istilah cerebral palsy.

Kendati demikian, kondisi itu bukan kendala bagi Sapto untuk berprestasi. Meski pernah dikucilkan semasa sekolah, dia bisa membuktikan bahwa dirinya bisa lebih baik ketimbang manusia yang kondisi fisiknya tak terganggu. Soal kesejahteraan atau keuangan, bukan perkara besar lagi untuk Sapto.

Baca juga: Cah Purwokerto Persembahkan Emas untuk Indonesia

"Saya pernah dikucilkan teman sejak SMP dan SMA. Tapi saya cuek saja dengan teman-teman yang seperti itu. Saya tetap berlatih dengan giat hingga akhirnya bisa beruntung seperti ini," kenang Sapto.

Sapto mulai giat dan rutin berlatih atletik sejak berusia 16 tahun. Guru olahraga di sekolahnya berperan besar mengenalkan atletik hingga akhirnya Sapto tertarik menggelutinya sebagai pilihan profesi.

Lewat atletik, khususnya balap lari, Sapto bukan hanya mengangkat nama baik keluarga. Akan tetapi, dia juga telah mengharumkan nama bangsa di mata internasional. Jika sudah begitu, masalah finansial bukan soal besar buat Sapto.

Tahun lalu, Sapto menyumbang dua emas di ajang ASEAN Para Games 2017 Malaysia. Prestasi itu membuatnya mendapat bonus besar dari Kementerian Pemuda dan Olahraga. Sapto juga pernah sukses di sejumlah event besar, tak terkecuali Asian Youth Para Games 2017 dan World Para Atletik di China 2018. 

"Alhamdulillah, jadi bisa dapat bonus lagi dari event ini. Rencananya, jika bonus sebesar Rp1,5 miliar itu terealisasi akan saya gunakan untuk buka bengkel, beli mobil dan bantu orang tua naik haji. Kalau rumah saya sudah punya," terang Sapto. 

Sapto masih berpeluang besar menambah emas di ajang Asian Para Games 2018. Pasalnya, dia akan tampil juga untuk nomor 100m T37, 400m T37, dan lari estafet 4x100 M. Kabarnya, satu medali emasnya diberikan bonus sebesar Rp1,5 miliar dari Kemenpora.

Video: Rica Oktavia Sumbang Medali Emas dari Lompat Jauh
 


(RIZ)