Regenerasi Atlet Berkuda Nasional, Perlahan tapi Pasti

Kautsar Halim    •    30 Oktober 2017 18:31 WIB
olahraga
Regenerasi Atlet Berkuda Nasional, Perlahan tapi Pasti
Atlet equistrian junior Indonesia sedang berlaga di ajang Cinta Indonesia Open 2017. (Foto: MTVN/Kautsar)

Metrotvnews.com, Tangerang: Tidak mudah untuk meregenerasi atlet berkuda di Tanah Air. Selain tergolong olahraga mahal, salah satu faktornya adalah masyarakat Indonesia lebih memfavoritkan sepak bola atau bulu tangkis yang bisa dimainkan di mana saja.

Kendati demikian, bukan berarti olahraga berkuda tidak menjanjikan untuk mengangkat nama bangsa. Pasalnya, di negara-negara Eropa atau negara maju lainnya, berkuda  memiliki banyak penggemar dan bahkan dijadikan salah satu cabang olahraga di Olimpiade.

Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi) masih terus menggenjot atlet berkuda agar bisa berprestasi di kancah internasional. Namun, perkembangannya tidak bisa terlalu signifikan karena peminatnya pun belum terlalu banyak.


Klik: Terkendala Kualitas Kuda, Pordasi Targetkan Sekeping Emas di Asian Games 2018


Salah satu pusat pengembangan atlet berkuda Indonesia terdapat di Yayasan SMA Adria Pratama Mulya (APM) yang berada di Jalan Raya Arya Wangsakara, Desa Tapos, Tigaraksa, Tangerang, Banten. Sekolah Menengah Atas itu memang sengaja didirikan Triwatty Marciano untuk mencetak atlet berkuda berprestasi.

Dua riders sedang melakukan pemanasan di area Yayasan SMA Adria Pratama Mulya (APM). (Foto: Kautsar/MTVN)


Siswa maupun siswi yang bersekolah di sana memang tidak terlalu banyak. Pasalnya, biaya yang dibutuhkan setahun bisa mencapai ratusan juta rupiah. Tapi, hal itu tidak membuat regenerasi atlet berkuda Indonesia terhenti karena Triwatti menyediakan beasiswa khusus bagi anak yatim piatu, atau anak-anak berbakat dari daerah setempat.

"Selain tidak mampu, nilai rapor SMP anak tersebut harus bagus agar diterima bersekolah di sini (SMA APM). Soalnya, atlet berkuda itu juga harus pintar," ujar Triwatty yang merupakan istri Kepala Badan Intelejen Nasional (BIN), Letjen TNI (Purn) Marciano Norman.


Klik: Atlet Nasional Asah Kemampuan Menuju Asian Games di CIO 2017


Selain beasiswa, pihak Triwatty juga sedang mendorong tiap pemerintah daerah agar mengirimkan putra-putri berbakatnya di SMA APM. Strategi itu cukup berhasil untuk mengatasi kendala dana yang diperlukan dan sudah dilakukan oleh Papua.

"Ada tujuh siswa Papua yang bersekolah di sini dengan bantuan Freeport dan pemerintah daerahnya. Tidak semuanya dari mereka yang jadi atlet, karena ada yang lebih berbakat menjadi ofisial, juri dan bahkan untuk ilmu peternakan kudanya. Papua sengaja mengirim ke sini karena mereka ingin ada penduduk asli dari daerahnya yang bisa menjadi wakil di Pekan Olahraga Nasional (PON)," terang Triwatty.

"Semangat dari Papua ini sangat bagus dan akan kami dorong juga agar bisa dilakukan oleh daerah lainnya," tambahnya.

Ketum Pordasi Eddy Saddak dan President of Event CIO 2017 Triwatty Marciano. (Foto: MTVN/Kautsar)


Dijelaskan oleh Triwatty, kebanyakan atlet berkuda Indonesia saat ini merupakan putra-putri pemilik kuda ataupun anak-anak dari anggota kavaleri Indonesia yang berada di Parongpong, Bandung, Jawa Barat. Namun, itu mulai berkembang seiring lebih dikenalnya olahraga berkuda di mata masyarakat.

"Kalau penambahan atlet yang signifikan nampaknya masih sulit. Tapi, setidaknya ada perkembangan tiap tahun dari sekolah kami yang atlet juniornya itu berasal dari kalangan selain militer," pungkas Triwatty.

 


(ACF)