Michael Phelps: Saya Bersyukur Tidak Bunuh Diri

Gregah Nurikhsani Estuning    •    22 Januari 2018 12:45 WIB
renang
Michael Phelps: Saya Bersyukur Tidak Bunuh Diri
Michael Phelps. (Foto: AFP PHOTO / Odd Andersen)

Maryland: Jawara renang dunia, Michael Phelps mengaku pernah hampir memutuskan untuk bunuh diri sejak lama. Setelah semua depresi dan keputusasaan lenyap, ia ingin membantu sesama agar terhindar dari keinginan bunuh diri.

Peraih 23 medali emas olimpiade itu pertama kali merasa depresi adalah pasca kesuksesannya pada 2012. Kini, setelah pensiun pada 2016 silam, Phelps akan selalu siap menceritakan pengalaman pahitnya agar menjadi motivasi bagi orang lain, terutama untuk mereka yang mengalami depresi.

"Setelah olimpiade (2012), saya rasa saya jatuh ke lembah depresi. Saya tidak ingin kembali ke ranah olahraga lagi. Saya tidak ingin hidup. Saya mau bunuh diri saja," kata Phelps dalam konferensi kesehatan di Kennedy Forum.

Ia juga menceritakan kalau ia tidak mau keluar dari kamarnya. Ia tidak makan dan tidur pasca Olimpiade London, di mana empat medali emas dan dua perak berhasil ia raih.

Depresi akut yang ia rasakan tidak berlangsung satu-dua tahun saja, melainkan 17 tahun belakangan. Phelps mengaku sudah merasakan kecemasan yang teramat sangat saat pertama kali mengikuti Olimpiade Athena 2004, yakni di kala usianya 15 tahun.
 

Klik: Tes Pramusim di Malaysia, Suzuki Undang Tiga Pembalap Superbike


Kesuksesan justru membawanya ke lembah hitam. Empat tahun pasca kecemerlangannya di Athena, Phelps diketahui menyalahgunakan obat-obatan terlarang dan gemar mengonsumsi alkohol. Ia bahkan sempat tertangkap kamera 'merokok' menggunakan bong atau alat hisap sabu.

Kini semuanya telah lewat. Ia menyebut ada banyak dukungan yang mengalir padanya, terutama setelah memutuskan pensiun dari olahraga renang. Oleh karena itu, ia ingin berada di posisi di mana ia bisa membantu banyak orang yang menderita penyakit sepertinya.

"Saya tidak tahu apa yang saya lakukan, saya waktu itu hanya ingin mengobati diri sendiri saja, mengobati ketakutan saya, apa pun itu saya ingin kabur dengan cara tersebut (red: minum alokohol dan narkotika)," sambungnya lagi.

"Penyakit kejiwaan memiliki stigma buruk yang harus kita hadapi. Saya rasa orang-orang sudah bisa mengerti bahwa itu adalah nyata. Saat ini saya senang banyak orang membicarakannya, ini penting karena hanya dengan begini lah kita bisa mengubah sesuatu."

"Orang-orang takut berbicara, mengutarakan apa yang dirasakannya, saya rasa karena itulah banyak kasus bunuh diri. Dengan saya bicara di depan publik, saya mau mereka tergerak, dan cara ini lebih kuat."

"Momen-momen dan perasaan seperti itu, emosinya, buat saya jauh lebih menyenangkan ketimbang memenangi medali emas olimpiade. Saya bersyukur saya tidak bunuh diri," pungkasnya.

Video: Nadal Tembus Perempat Final Australia Terbuka 2018
 


(FIR)