Tour de Singkarak 2018

Balapan Itik Meriahkan Finis Etape 6 TdS 2018

Kautsar Halim    •    10 November 2018 01:34 WIB
balap sepedatour de singkaraksportainment
Balapan Itik Meriahkan Finis Etape 6 TdS 2018
Suasana balapan itik yang jadi budaya masyarakat Sumatera Barat di etape 6 Tour de Singkarak 2018 (Foto: medcom.id/Kautsar Halim)

Payakumbuh: Berbagai suguhan budaya khas Sumatera Barat dipamerkan tiap kabupaten/kota yang wilayahnya menjadi lokasi finis dan start Tour de Singkarak 2018. Di Payakumbuh yang menjadi tempat finis etape keenam, ada lomba balapan itik atau yang biasa disebut warga setempat sebagai Pacu Itiak.

YB Datuk Parmato Alam selaku Ketua Persatuan Pacu Pitiak wilayah Luwak Lima Puluah menjelaskan, budaya balapan itik sudah ada sejak 1927 silam. Kemudian, tidak ada wilayah lain di Indonesia maupun dunia yang memiliki budaya unik seperti itu.

"Dulunya, wilayah Payakumbuh ini banyak sawah yang dibuat berjenjang. Sehingga, itik-itik air bisa loncat atau terbang cukup jauh. Dari situlah cikal bakal lomba Pacu Itiak," kata Parmato yang ikut menyaksikan finis etape 6 di depan Kantor Walikota Payakumbuh, Jumat (9/11/2018).
 

Baca: Giliran Pembalap Afrika Selatan Menangi Etape 6 TdS 2018


Sekilas, itik yang dilombakan terlihat tidak jauh berbeda dengan itik yang biasa dijadikan santapan. Namun, Parmato mengatakan itik lomba itu berbeda karena tidak semuanya bisa dilatih. Kemudian, harga itik yang jadi juara bisa mencapai Rp2 juta per ekor.

"Itik lomba ini pasti berjenis kelamin betina. Sebab, kalau jantan tidak mau menyalip betina saat lomba dan susah diatur. Usia itik yang digunakan berkisar 4-6 bulan dan belum pernah bertelur," papar Parmato yang juga Ketua DPRD Payakumbuh.

Demi melestarikan budaya lokal, Parmato juga rutin menggelar Grand Prix Pacu Itiak tiap tahun. Event tersebut selalu ramai diminati karena memiliki hadiah menarik seperti sepeda motor hingga sapi.


Suasana balapan itik yang jadi budaya masyarakat Sumatera Barat di etape 6 Tour de Singkarak 2018 (Foto: medcom.id/Kautsar Halim)

Selain itu, pemerintah setempat juga punya tempat khusus yang dinamakan gelanggang sebagai lokasi balapan. Jadi, perhelatannya pun tidak akan mengganggu aktifitas masyarakat yang lain.

"Kami punya enam gelanggang di kota dan kabupaten. Jadi totalnya ada 12 gelanggang untuk selenggarakan Grand Prix Pacu Itiak," jelas Parmato.

Saat ditampilkan menjelang finis etape 6 TdS 2018, hanya terdapat sekitar sembilan itik yang diterbangkan oleh para pemangku kepentingan di daerah terkait. Tapi, itu hanya simulasi karena bisa ada ratusan itik yang diterbangkan secara bersamaan ketika perlombaan sebenarnya dilakukan.

Meski begitu, menerbangkannya juga harus sesuai dengan kategori lomba, yakni kelas 800m, 100m, 1.200m, 1.400m dan 1.600m. 
 

Baca juga: Piala AFF 2018: Timnas Indonesia Takluk di Tangan Singapura


Aturan main untuk kelas 800m sampai 1.200m terbilang sama karena akan dibuat garis pembatas di jarak tersebut. Jadi, apabila itik mendarat melewati garis akan dinyatakan gugur. Lain lagi dengan aturan main kelas 1.400m dan 1.600m. Tidak ada garis pembatas untuk dua kategori paling bergengsi itu.

"Cara menentukan pemenangnya sama, yakni hanya mencari itik yang bisa mendarat paling jauh dan tidak melebihi garis pembatas. Tapi, tidak ada garis pembatas untuk kelas 1.400m dan 1.600m. Jadi, Itik diperbolehkan terbang sejauh-jauhnya," tutup Parmanto. 

Sementara dari hasil balapan TdS 2018, Clint Hendriks dari tim Bike Aid keluar sebagai pembalap tercepat di etape 6. Di belakang pembalap Afrika Selatan itu ada dua pembalap tim Ningxia Sports Lottery - Livall Cycling, yakni Edgar Nieto (Spanyol) dan Bolor?Erdene Enkhtaivan (Mongolia). Untuk pembalap Indonesia tercepatnya disabet Jamal Hibatulah dari tim PGN Road Cycling.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: ?Barito Putera Rekrut Tiga Pemain Timnas U-16



(ACF)