FOBI Gelar Kejurda Dorong Atlet Tampil di PON 2020

Rendy Renuki H    •    29 September 2018 19:17 WIB
olahraga
FOBI Gelar Kejurda Dorong Atlet Tampil di PON 2020
Salah satu atraksi barongsai tonggak yang dipertandingkan di Kejuaraan Daerah DKI Jakarta 2018, Sabtu 29 September (Istimewa)

Jakarta: Pengurus Besar Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (PB FOBI) menggelar Kejuaraan Daerah (Kejurda) DKI Jakarta 2018 di Pluit, Jakarta Utara, Minggu 29 September. FOBI mendorong para atlet untuk tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 dalam kejuaraan yang mempertandingkan nomor tradisional dan tonggak itu.

Sebanyak 200 peserta dari  18 tim barongsai Jabodetabek turut serta pada Kejurda yang akan berlangsung hingga Minggu 30 September besok. Barongsai sendiri kini sudah menjadi olahraga prestasi dan telah masuk anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) sejak 2013 lalu.

Pada PON 2016 lalu di Jawa Barat, barongsai bahkan sudah mulai dipertandingkan. Meski, olahraga yang kental mengandung unsur budaya Tionghoa itu masih sebatas eksibisi di PON 2016 lalu.

Klik: Mercedes Dominasi Latihan Bebas Terakhir


"Kita gembira Barongsai kini sudah jadi anggota KONI pada 2013 dan sudah dieksibisikan pada 2016. Mudah-mudahan bisa dipertandingkan dalam PON 2020 mendatang," kata Wakil Ketua DPR RI, Utut Hadianto yang membuka Kejurda tersebut.

Rencananya, setelah Kejurda DKI 2018 rampung, para atlet barongsai akan turun di Kejurnas yang akan berlangsung di Sumatera Barat pada 9-11 November 2018. Agar FOBI DKI nantinya lebih mudah menjaring atlet untuk mewakili Indonesia di ajang internasional.

"Olahraga barongsai sudah dipertandingkan di regional bahkan internasional. Dari Jakarta sendiri sudah raih emas di tingkat internasional. Olahraga ini memiliki semangat tak asing buat Indonesia yakni semangat gotong rotong, seperti yang digaungkan Bung Karno," papar Ketum FOBI DKI, Charles Honoris.

Berbicara sistem penilaian cabang olahraga ini, Wakil Ketua Umum PB FOBI, Ronald Sjarif mengatakan ada beberapa kriteria. Untuk nomor tonggak, penilaian dilihat dari kerja sama atlet saat memainkan barongsai di kepala dan buntut, gerakan akrobatik, hingga sopan santun.

"Sementara, penilaian Tradisional yang didilihat adalah ekspresi, keterampilan, hasil permainan, kostum, hingga alur cerita dan sopan santun," sambungnya.

 


(REN)