Kaleidoskop 2018

Kaleidoskop 2018: Kebangkitan Olahraga Indonesia

Gregorius Gelino    •    28 Desember 2018 08:12 WIB
Asian Para Gamesasian games 2018Kaleidoskop 2018
Kaleidoskop 2018: Kebangkitan Olahraga Indonesia
Momen-momen atlet Indonesia di pentas Asian Games dan Asian Para Games 2018 (Foto: Antara)

Tahun 2018 bisa dibilang menjadi tahun kebangkitan buat olahraga Indonesia. Dari dua ajang besar yang diikuti, yakni Asian Games dan Asian Para Games, Indonesia berhasil menorehkan sejarah baru

Jakarta:
Indonesia boleh berbangga jika berbicara soal prestasi di bidang olahraga pada tahun 2018. Dari dua event besar yang diikuti, atlet-atlet Indonesia sukses memberikan prestasi bersejarah.

Asian Games dan Asian Para Games menjadi dua agenda besar yang diikuti Indonesia pada tahun 2018. Kebetulan, di dua multievent terbesar di Asia itu, Indonesia dipercaya sebagai tuan rumah.

Kesempatan ini tidak disia-siakan anak-anak bangsa untuk mengukir prestasi besar yang sudah lama diidamkan. Lewat perjuangan yang luar biasa, mereka akhirnya bisa mengharumkan nama bangsa. Bahkan mencetak sejarah baru.
 

Baca: Kaleidoskop 2018: Momen Manis dan Pahit Timnas Indonesia


Tak hanya dari segi prestasi, dari segi penyelenggaraan, Indonesia juga berhasil membuat negara-negara lain angkat topi. Seremonial pembukaan Asian Games misalnya. Indonesia mendapat sanjungan dari berbagai penjuru dunia lewat pertunjukkan yang mengejutkan dari Presiden Joko Widodo. 
 

Sejarah Baru Indonesia di Asian Games


Sebelum memulai perjuangan di Asian Games pada 18 Juli - 2 September 2018, atlet-atlet Indonesia sejatinya sempat dibuat ketar-ketir dengan target tinggi yang dibebankan pemerintah untuk Asian Games.

Dalam beberapa kesempatan, pemerintah lewat Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi dan juga Presiden Joko Widodo mengatakan, target Indonesia di Asian Games adalah merebut 16 emas dan menduduki posisi tujuh besar.

Target ini terbilang berat jika mengacu pada capaian empat tahun silam di Incheon, Korea Selatan. Pada Asian Games 2014, Indonesia hanya menduduki peringkat 17 dan hanya meraih empat emas.

Namun, kekhawatiran itu berangsung hilang menyusul keberhasilan demi keberhasilan yang dicapai para atlet Indonesia. Di hari pertama penyelenggaraan, Indonesia sudah berhasil meraih emas lewat Defia Rosmaniar yang turun di cabor Taekwondo nomor Poomsae putri.



Selanjutnya, emas demi emas pun mengalir dari berbagai cabor yang diikuti Indonesia. Hingga akhirnya, target 16 emas tersebut sudah tercapai, saat gelaran Asian Games masih menyisakan beberapa hari. Indonesia akhirnya mengakhiri Asian Games di posisi empat dengan raihan 31 emas, 24 perak dan 43 perunggu.

Torehan ini tentunya menjadi sejarah tersendiri bagi Indonesia karena sebelumnya Indonesia belum pernah mendapatkan emas sebanyak ini. Secara peringkat, menduduki posisi empat merupakan capaian terbaik kedua setelah Asian Games 1962 di mana Indonesia yang kala itu juga tampil sebagai tuan rumah berhasil menjadi runner-up.

Kesuksesan Indonesia di Asian Games 2018 tidak bisa lepas dari kontribusi besar cabor Pencak Silat. Seni beladiri tradisional Indonesia ini menjadi lumbung emas Indonesia. Bayangkan, dari total 16 emas yang diperebutkan, Indonesia berhasil meraih 14 medali. Ini merupakan sapu bersih karena Indonesia memang tidak menyertakan wakilnya di dua nomor.
 

Sensasi Jonatan Christie


Selain pencak silat, Indonesia juga sukses mencetak prestasi besar di berbagai cabor. Salah satunya bulu tangkis, khususnya di sektor tunggal putra.

Jonatan Christie merengkuh medali emas di nomor tunggal putra setelah terakhir kali Taufik Hidayat yang melakukannya di Asian Games 2006 di Qatar.

Prestasi ciamik Jojo, sapaan Jonatan, membuat gairah bulu tangkis dalam negeri kembali meledak. Apalagi dengan gaya selebrasinya yang melepas baju setiap kali meraih kemenangan yang membuat kaum hawa menjerit histeris.
 

Pencapaian Bersejarah di Asian Para Games


Selain prestasi mentereng di Asian Games, Indonesia juga mencatatkan prestasi gemilang di Asian Para Games 2018. Kontingen Garuda menempati peringkat lima di tabel klasemen perolehan medali dengan koleksi 37 emas, 47 perak, dan 51 perunggu.
 

Baca juga: Kaleidoskop 2018: Juventus Rebut Scudetto Ketujuh Hingga Cristiano Ronaldo Berlabuh ke Turin


Sama seperti Asian Games, atlet-atlet disabilitas Indonesia juga sukses melampaui target yang ditetapkan pemerintah, yakni 16 medali emas.

Cabor atletik dan catur menjadi penyumbang medali terbanyak bagi Indonesia. Cabor atletik menyumbangkan 28 medali dengan rincian 6 emas, 12 perak, dan 10 perunggu. Sementara catur menyumbangkan 22 medali dengan rincian 11 emas, 5 perak, dan 6 perunggu.
 

Polemik Miftahul Jannah


Namun, gelaran Asian Para Games sempat menimbulkan polemik. Hal itu tak lepas dari pejudo Indonesia, Miftahul Jannah, yang didiskualifikasi karena menolak melepas hijabnya ketika akan bertanding.

Dalam aturan Federasi Internasional Judo, penutup kepala memang dilarang digunakan ketika bertanding. Pasalnya, pertarungan yang dilakukan atlet judo lebih sering melakukan bantingan dan penggunaan hijab dikhawatirkan membuat atlet tercekik. Alhasil, Miftahul pun harus mengubur impiannya untuk menyumbangkan medali bagi Indonesia.

Tapi bukan berarti karier Miftahul berakhir sampai di situ. Atlet 21 tahun itu akhirnya memutuskan untuk banting setir menjadi atlet catur.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: ?Persija Jakarta Perpanjang Kontrak Stefano Cugurra




(ACF)