15 Cabor yang Menimbulkan Kericuhan di PON 2016 Jabar (Bagian 1)

Kautsar Halim    •    03 Oktober 2016 12:37 WIB
olahragapon 2016
15 Cabor yang Menimbulkan Kericuhan di PON 2016 Jabar (Bagian 1)
Pegulat putra Kalimantan Selatan Agus Setia (tengah) diamankan petugas usai bertanding melawan pegulat Kalimantan Timur pada semi final Kelas 54 Kg Putra PON XIX.

Perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat (Jabar) berakhir pada Jumat 29 September. Upacara penutupan berlangsung  megah dan disaksikan oleh orang-orang penting di Tanah Air. Di antaranya, Wakil Presiden Jusuf  Kalla dan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi.
 
Terlepas dari kemeriahan acara penutupan, kualitas penyelenggaraan PON 2016 Jabar harus ditingkatkan. Pasalnya, sejumlah pelanggaran dan problem laten seperti anarkisme suporter, juri atau wasit yang dianggap kurang  adil, hingga fasilitas pertandingan yang kurang memadai masih muncul.
 
Ada 44 cabang olahraga (cabor) yang dilombakan di PON 2016 Jabar. Berdasarkan pantauan Metrotvnews.com, ada 15 cabor yang penyelenggaraan bermasalah.  Berikut ini daftarnya.
 
Gulat
Gulat kerap mengundang kericuhan selama PON 2016. Bahkan, event yang berlangsung di Gelanggang Olahraga Remaja (GOR) Saparua ini sudah menuai kontroversi sejak hari pertama penyelenggaraan. Biasanya, keributan muncul karena pihak pelatih salah satu tim tamu tidak senang dengan keputusan juri.
 
Kericuhan paling parah dari cabor gulat terjadi ketika semifinal yang mempertandingkan wakil Kalimantan Timur, Ariansyah dengan pegulat Jawa Barat, Bagus, Senin 26 September. Saat itu, pelatih Kaltim yang tidak terima anak asuhnya kalah, langsung memporak-porandakan meja wasit dan memukul salah satu juri yang berasal dari Iran.
 
Polo Air
Sportivitas di cabor polo air ternoda akibat satu kericuhan. Mirisnya, kericuhan melibatkan semua aspek pertandingan seperti penonton dan pihak TNI.
 
Insiden bermula ketika tim polo air putra Sumatera Selatan dan Jawa Barat tampil di babak semifinal di Kolam Renang Si Jalak Harupat, Senin 19 September. Ketika para pemain bentrok fisik di kolam renang, tim polo air DKI Jakarta yang berada di tribun malah menjadi bulan-bulanan TNI karena dianggap memperkeruh suasana. Video pemukulan anggota TNI viral usai muncul di media sosial Youtube.
 
Supaya insiden serupa tidak terjadi, panitia penyelenggara langsung memperketat keamanan saat partai final mempertemukan Jawa Barat kontra DKI Jakarta yang berlangsung sehari kemudian.
 
Bola Basket
Kericuhan dari cabor bola basket terjadi ketika tim putra Jawa Barat dan Papua Barat tampil di semifinal di GOR C-Tra, Rabu 21 September. Tim tamu menyasar wasit pada kuarter keempat karena tidak senang dengan berbagai keputusan sepanjang pertandingan.
 
Bukan hanya para pemain yang terlibat dalam insiden ini. Pihak ofisial Papua juga sempat turun ke lapangan untuk mendukung aksi tidak sportif tersebut.
 
Pertandingan baru dilanjutkan ketika pihak keamanan, Polisi, dan TNI turun ke lapangan. Setelah itu, Jabar berhasil mengalahkan Papua dan merebut medali emas setelah menaklukkan Jawa Timur pada babak final.

Wushu
Wushu yang biasanya mempertontonkan keindahan ilmu bela diri justru menjadi ajang adu jotos di PON 2016 Jabar. Insiden itu terjadi ketika babak final nomor sanda kelas 52 Kg yang mempertemukan Selvia Pertiwi (Jawa Barat) dengan Rosalina Simanjuntak (Sumatera Utara).
 
Awalnya, pihak pelatih tim tuan rumah memberikan protes soal keputusan wasit. Protes dikeluarkan usai Rosalina dinyatakan sebagai pemenang dengan skor 2-1.
 
Edwin Sanjaya selaku selaku Ketua Pengprov Wushu Jabar memperkeruh suasana dengan turun ke matras dan menantang wasit untuk berkelahi. Tak lama kemudian, Edwin langsung mengajak para pendukung Jabar yang memenuhi tribun stadion untuk ikut melawan wasit.
 
Setelah dilakukan penundaan dan penilaian ulang hasil pertandingan, Dewan Hakim PB PON akhirnya memutuskan Rosalina dan Selviah menjadi juara bersama. Keduanya diputuskan meraih emas untuk cabor wushu nomor sanda kelas 52 Kg.
 
Renang Indah
Cukup janggal cabor renang indah bisa menuai kericuhan. Pasalnya, olahraga ini tidak memerlukan kontak fisik. Tapi kenyataannya, kericuhan terjadi saat renang indah diperlombakan di ajang PON 2016 Jabar.
 
Kericuhan berawal ketika renang indah dimulai di Kolam Renang FPOK UPI, Kamis 22 September. Saat itu, kericuhan muncul karena ofisial DKI Jakarta menganggap panitia telah membuat peraturan yang menguntungkan tuan rumah.
 
DKI tidak terima atletnya, Adela Amanda Nirmala, dilarang mengikuti perlombaan karena terkendala peraturan pembatasan usia. Oleh karena itu, DKI sempat memutuskan mengundurkan diri ketika dilangsungkan technical meeting beberapa hari sebelumnya.
 
DKI yang tidak puas dengan peraturan tersebut akhirnya tetap datang ketika hari penyelenggaraan dimulai. Mereka sempat membuat ricuh dan memprotes panitia pertandingan agar atletnya bisa tampil. Insiden ini membuat pertandingan ditunda lebih dari satu jam.
 
Sepak Bola
Kericuhan di sepak bola bukan hal baru. Jadi, tak heran keributan terjadi di cabor sepak bola di ajang PON 2016 Jabar.
 
Menurut pantauan Metrotvnews.com, ada dua kericuhan besar yang terjadi selama PON 2016 Jabar. Kericuhan pertama terjadi pada babak penyisihan antara DKI Jakarta kontra Jawa Barat di Stadion Pakansari, Sabtu 18 September. Saat itu, terjadi perkelahian antar suporter yang membuat laga ditunda sekitar 20 menit.
 
Kericuhan kedua terjadi seusai babak final yang mempertemukan Jawa Barat dengan Sulawesi Selatan di Stadion Si Jalak Harupat, Rabu 28 September. Saat itu, Sulsel tidak terima meraih perak karena menganggap kekalahan diperoleh secara tidak sportif. Menurut mereka. Sulsel kalah adu penalti karena para pemainnya dipengaruhi sorotan sinar laser.
 
Judo
Kericuhan dari cabor Judo memang tidak menimbulkan aksi anarkis seperti di cabor polo air atau gulat. Kali ini, kekacauan membuat kontingen dari Bali, Lampung, DIY, dan Sumatra Utara menyetujui petisi yang berisi protes terhadap sikap kepemimpinan juri dan wasit yang dinilai tidak adil.
 
Aksi protes berbeda dilakukan tim judo DKI Jakarta ketika dijadwalkan bertanding  pada Senin 18 September. Saat itu, mereka hanya datang ke arena untuk memberikan penghormatan dan langsung walk out.
 
 
(HIL)