Sesmenpora: Regulasi dan Realisasi Penanganan Medis Sering tak Konsisten

   •    18 Oktober 2017 17:20 WIB
olahragasepak bola
Sesmenpora: Regulasi dan Realisasi Penanganan Medis Sering tak Konsisten
Sekretaris Menpora Gatot Dewa Broto. (Foto: ANTARA/Wahyu Putro)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sesmenpora Gatot Dewa Broto mengatakan pihaknya telah meminta Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menginvestigasi penanganan medis yang diberikan kepada Choirul Huda sebelum penjaga gawang Persela Lamongan itu dinyatakan meninggal.

Selain itu, pemerintah dalam hal ini Kemenpora juga melakukan evaluasi secara menyeluruh insiden yang menewaskan ayah dua anak tersebut.

"Poinnya apakah tindakan emergency itu sesuai prosedur atau tidak. Sebab ada pembicaraan (diduga) ada semacam kesalahan prosedur atau keterlambatan penanganan yang harusnya diantisipasi," kata Gatot, dalam Metro Pagi Primetime, Rabu 18 Oktober 2017.

Gatot menyayangkan tak banyak informasi yang bisa diperoleh Kemenpora terkait insiden benturan yang dialami Choirul Huda. Padahal jika ditangani secara tepat bukan tidak mungkin nyawa penjaga gawang Persela Lamongan itu bisa diselamatkan.

Menurut Gatot, standar pelayanan medis saat terjadi insiden dalam pertandingan sudah diatur sedemikian rupa untuk mengakomodasi para pemain yang mengalami cedera. Khusus untuk sepak bola, pemerintah bahkan mengacu standar pelayanan medis dari FIFA untuk menangani korban yang mengalami kondisi kegawatdaruratan di lapangan.

Sayangnya, meski regulasi sudah dibuat kerap kali realisasi pelayanan medis di lapangan tidak dilakukan secara tepat. Padahal, penanganan tepat paling tidak dapat membuat pemain terhindar dari cedera yang lebih serius.

"Regulasi ada, peraturan ada, tetapi apakah itu sudah secara konsisten dilakukan? Itu belum. Juga apakah (penanganan) di stadion itu proper atau tidak itu yang perlu kami perhatikan," kata Gatot.

Ketidak-konsitenan antara aturan tertulis dengan fakta di lapangan diduga menjadi penyebab banyaknya kesalahan medis yang diberikan kepada pemain yang mengalami kondisi kegawatdaruratan.

Selain itu, Gatot menilai aturan yang sudah ada pun kurang merinci bagaimana penanganan  yang harus dilakukan sesaat setelah kejadian. Aturan yang ada dianggap masih terlalu umum.

"Harusnya ada timeline-nya, sekian detik apa yang harus dilakukan. Kejadian seperti ini harus begini, dan seterusnya. Itu tidak ada. Harus ada simulasinya, kalau ada cedera harus seperti apa? Itu menjadi perhatian jangan sampai menunggu kejadian seperti Choirul Huda," jelas Gatot.




(MEL)