Tanpa Atlet Nasional, Persaingan IDH Seri 1 Terbuka Lebar

Rendy Renuki H    •    21 April 2018 22:09 WIB
balap sepeda
Tanpa Atlet Nasional, Persaingan IDH Seri 1 Terbuka Lebar
Pahraz Salman Alparisi melibas trek di Bukit Hijau Bike Park, Imogori, Bantul, Sabtu (21/4) (Medcom.id/Ist)

Bantul: Persaingan pembalap di ajang Indonesian Downhill seri satu sangat terbuka lebar tanpa kehadiran sejumlah atlet nasional. Ajang yang digelar di Bantul, DIY Yogyakarta, 21-22 April itu memang tidak diikuti atlet nasional MTB macam Popo Ariyo Sejati, Khoiful Mukhib, dan Hildan Afosma Katana.

Ketiga atlet terebut sedang melakukan pemusatan latihan Pelatnas MTB di Australia untuk persiapa Asian Games 2018. Tapi, hal itu justru membuat persaingan lebih terbuka karena pembalap lain akan terpacu memperebutkan tempat terhormat.

Direktur Indonesian Downhill, Parama Nugroho, melihat absennya para atlet nasional tidak akan mengurangi serunya kompetisi di Bukit Hijau Bike Park.

"Absennya atlet pelatnas justru membuka peluang untuk atlet lain naik podium. Saya mengharapkan ada kejutan dari pembalap lain karena mereka punya kesempatan untuk menjadi yang tercepat," ujar pria yang akrab disapa Nunung itu, Sabtu (21/4/2018).

Klik: Delegasi Taiwan Puas Melihat Pesiapan Asian Games 2018


Prediksi Nunung tepat. Saat seeding run (pengambilan waktu terbaik untuk penentuan posisi start), Pahraz Salman Alparisi, yang turun di kelas mens junior mencatat waktu tercepat.

Secara keseluruhan, ia meraih catatan waktu 2 menit 16.205 detik. Catatan waktu itu bahkan lebih cepat dari catatan di kelas mens elite A milik Robert Agung Wahyudi.

Pahraz mampu melibas trek Bukit Hijau yang memiliki karakter sulit dan elevasi yang terjal dengan mulus. Catatan waktu miliknya lebih cepat 31 detik dari pesaing terdekatnya di kelas mens junior, Abdul Muhaimin.

Di kelas mens elite, Robert yang turun membela Garuda FJC Team ISSI Blora melibas trek Bukit Hijau dalam waktu 2 menit 17.991 detik, sementara Mulyadi Ateng dari tim Gopad berada di urutan kedua dengan waktu 2 menit 19.134 detik karena mendapat masalah saat pemilihan racing line.

"Tadi saya pilih jalur B, jadi kehilangan momentum ke bawahnya, tepat sebelum jembatan. Insya Allah, besok saya bisa memperbaiki waktu dan tampil lebih cepat," katanya usai seeding run.

Sementara, di kelas master expert A yang dihuni mantan atlet nasional juga terjadi persaingan ketat. Nur Warsito, yang seharusnya turun di kelas master expert B karena faktor usia, malah naik ke kelas master expert A agar bisa bersaing dengan pembalap yang lebih muda.

Hasilnya, juara PON 2012 ini mencatat waktu tercepat dua menit 39.339 detik, disusul peraih medali emas SEA Games 2011, Pornomo, yang mencatat waktu 4,5 detik lebih lebih lambat. Chrisdian Mardianto di urutan ketiga dengan waktu dua menit 47.774 detik.

"Tadi di berm terakhir saya ambil jalur luar, jadi punya daya lebih untuk memacu sepeda. Ternyata bisa lebih cepat," ujar Nur Warsito membuka resepnya menaklukkan trek.

Mereka yang mencatat waktu tercepat akan mendapat giliran start terakhir pada final run yang berlangsung Minggu 22 April.

 


(REN)