Gempa Bumi dan Tsunami di Palu

Atlet Paralayang Korban Gempa Sempat Sakit Sebelum ke Palu

Daviq Umar Al Faruq    •    02 Oktober 2018 22:11 WIB
olahraga
Atlet Paralayang Korban Gempa Sempat Sakit Sebelum ke Palu
Atlet paralayang Jatim, Ardi Kurniawan (kiri) semasa hidup tengah berfoto bersama rekannya. (Foto: Istimewa)

Batu: Atlet Paralayang asal Jawa Timur Ardi Kurniawan ditemukan meninggal dunia dalam reruntuhan Hotel Roa-Roa akibat gempa di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Selasa 2 Oktober 2018. Warga asal Kota Batu ini sebelumnya dikabarkan tengah sakit sebelum berangkat ke Palu.

Salah satu rekan Ardi yang juga atlet paralayang Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Jatim, Rika Wijayanti, menceritakan bahwa Ardi sebelumnya mengeluh sakit kepadanya sebelum berangkat ke Palu untuk mengikuti Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) 2018.

"Mas Ardi sebelumnya bilang kalau nggak berangkat ke Palu. Dia bilang sakit pas mau berangkat, tapi ternyata dia tetap berangkat," katanya saat ditemui di kediamannya, Selasa 2 Oktober 2018.

Seperti diketahui, lima atlet paralayang dari Malang menjadi korban gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 28 September 2018 lalu. Dua atlet ditemukan selamat, dua masih hilang dan satu atlet yakni Ardi ditemukan meninggal dunia di reruntuhan Hotel Roa-Roa, Palu.

"Saya dengan Mas Ardi ditemukan tadi pagi dari televisi. Dengar kabar itu saya shock, sedihlah pastinya, terpukul," ujarnya.

Wanita 23 tahun ini menceritakan Ardi yang kerap disapa Gundul adalah sosok senior yang sangat mengayomi juniornya, termasuk dirinya. Saat menjadi atlet amatir, Rika mengaku sering diajari oleh Ardi untuk menjadi atlet profesional.

Klik di sini: Hasil Sidang Komisi Disiplin PSSI: Persib dan Persija Banjir Sanksi

"Ardi lebih senior dari saya, usianya 29 tahun. Saya sering dimentorin, dia selalu kasih semangat terus. Orangnya sabar, selalu bilang jangan cepet puas sama apa yang kita dapat," ungkapnya.

Sebenarnya, Rika bersama empat orang atlet paralayang lainnya dijadwalkan berangkat ke Palu untuk mengikuti kejuaraan yang sama. Namun, kelima atlet ini harus ke Jakarta untuk mengurus seleksi CPNS di Kemenpora karena telah berprestasi di Asian Games 2018.

"Saya meraih peraih medali perak beregu, perunggu beregu dan perunggu individu pada Asian Games 2018. Saya dan teman-teman lainnya 80 persen pasti berangkat ke Palu dan sudah didaftarkan tapi nggak jadi karena harus ke Jakarta," urainya.

Rika menjelaskan Ardi seharusnya memiliki peluang juara pada Festival Pesona Palu Nomoni (FPPN) 2018. Pasalnya hingga hari keempat kompetisi, bapak dua anak itu memperoleh poin tertinggi yang sulit dikejar oleh atlet lain.

"Mas Ardi adalah atlet yang berprestasi, di SEA Games 2011 dia dapat emas, PON 2016 dia dapat emas. Belum lagi juara yang dia dapatkan di kejuaraan nasional dan internasional lainnya," pungkasnya.

Sebagai informasi, lima atlet paralayang asal Malang, Jawa Timur yang menjadi korban gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 28 September 2018 lalu, antara lain Viki Mahardika, Gigih Iman, Reza Kambey, Ardi Kurniawan, dan Serda Fahmi. Kelimanya adalah atlet dari FASI Jawa Timur.

Hingga saat ini, ketiga atlet yang telah ditemukan, yakni Viki Mahardika, Gigih Iman, dan Ardi Kurniawan. Viki dan Gigih ditemukan sejak Minggu 30 September 2018 dalam keadaan selamat, sedangkan Ardi ditemukan Selasa 2 Oktober 2018 dengan kondisi meninggal dunia.

Ardi ditemukan dengan mengenakan celana berlogo PON 2016 hijau milik KONI Jatim di bawah reruntuhan Hotel Roa-toa sekitar pukul 09.40 WITA atau pukul 07.40 WIB. Jenazah ditemukan saat alat berat membongkar reruntuhan bangunan. 

Video:Suporter Bola di Indramayu Gelar Deklarasi Damai