Pertolongan Pertama Saat Terjadi Benturan di Lapangan

   •    18 Oktober 2017 10:11 WIB
olahragasepakbola
Pertolongan Pertama Saat Terjadi Benturan di Lapangan
Penjaga gawang Persela Lamongan Choirul Huda meninggal dunia setelah sempat tak sadarkan diri karena mengalami benturan dengan rekan setimnya, Ramon Rodrigues. (Foto: ANTARA/Rahbani Syahputra)

Metrotvnews.com, Jakarta: Insiden benturan antar-pemain sepak bola saat berlaga di lapangan hampir mustahil dapat dihindarkan. Namun, setiap orang di lapangan terutama rekan satu tim atau tim lawan dapat memberikan pertolongan pertama saat terjadi benturan.

Fisioterapis Olahraga Matias Ibo mengatakan hal paling penting sebagai pertolongan pertama saat terjadi benturan di lapangan adalah melaksanakan prinsip DR ABC atau Danger Response, Airway, Breathing and Circulation, terhadap korban benturan.

"Saat terjadi benturan di lapangan yang harus dilakukan pertama adalah mengecek pernapasannya apakah ada gangguan atau obstruction, cek sirkulasinya baru setelah itu penanganan lebih lanjut," ujar Matias, dalam Metrosport, Selasa 17 Oktober 2017.

Berkaca dari insiden meninggalnya Choirul Huda, Matias mengatakan yang terjadi pada kiper Persela Lamongan berdasarkan keterangan tenaga medis di RSUD dr Soegiri adalah benturan hebat yang mengakibatkan nafas dan jantung berhenti berfungsi.

Secara sederhana, henti napas akibat benturan bisa disebut sebagai hipoksia atau kondisi kurangnya pasokan oksigen bagi tubuh untuk menjalankan fungsinya. Selain karena benturan langsung, kasus hipoksia juga bisa disebabkan oleh beberapa hal.

"Misalnya lidahnya jatuh ke belakang atau tertelan, itu bisa terjadi saat benturan keras. Atau keinginan muntah tetapi tidak bisa keluar akibat terhambat di leher. Penangannya harus dikeluarkan dulu supaya bisa bernapas dengan baik baru tindakan lanjutan," kata Matias.

Hal paling penting, kata Matias, adalah tidak panik saat insiden terjadi. Ambil waktu sebanyak mungkin. Karena insiden umumnya terjadi saat pertandingan, wasit tak boleh buru-buru melanjutkan laga sebelum korban bisa dipindahkan untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut.

"Tidak boleh buru-buru semuanya harus sistematis dan perlahan," ujarnya.

Menurut Matias, selain terhadap petugas medis yang berada di lapangan, edukasi pemberian pertolongan pertama juga perlu dibekalkan kepada para pemain. Sebab, orang paling dekat saat terjadi benturan antar-pemain adalah tim itu sendiri.

Edukasi terhadap hipoksia harus menjadi tindakan pertolongan pertama yang juga perlu dikuasai oleh para pemain. Pun dengan bagaimana menangani hal-hal yang berhubungan dengan cedera yang membahayakan nyawa paling tidak harus dipahami oleh setiap pemain.

"Tapi yang pasti kalau cidera kepala pada pemain, orangnya harus responsif. Harus terus sadar enggak boleh sampai jatuh tertidur atau pingsan. Tanyakan terus hal-hal sederhana seperti main untuk tim apa, skor berapa, posisi kamu apa, asal mendapat jawaban itu yang paling penting dari orang yang mengalami tabrakan," jelas Matias.




(MEL)