15 Cabor yang Menimbulkan Kericuhan di PON 2016 Jabar (Bagian 2)

Kautsar Halim    •    03 Oktober 2016 12:46 WIB
olahragapon 2016
15 Cabor yang Menimbulkan Kericuhan di PON 2016 Jabar (Bagian 2)
Kontingen cabang olahraga tinju Papua melancarkan protes terhadap hasil keputusan dewan juri pada PON XIX/2016. (MI/BENNY BASTIANDY)

Perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat (Jabar) berakhir pada Jumat 29 September. Upacara penutupan berlangsung  megah dan disaksikan oleh orang-orang penting di Tanah Air. Di antaranya, Wakil Presiden Jusuf  Kalla dan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi.
 
Terlepas dari kemeriahan acara penutupan, kualitas penyelenggaraan PON 2016 Jabar harus ditingkatkan. Pasalnya, sejumlah pelanggaran dan problem laten seperti anarkisme suporter, juri atau wasit yang dianggap kurang  adil, hingga fasilitas pertandingan yang kurang memadai masih muncul.
 
Ada 44 cabang olahraga (cabor) yang dilombakan di PON 2016 Jabar. Berdasarkan pantauan Metrotvnews.com, ada 15 cabor yang penyelenggaraan bermasalah.  Berikut ini daftarnya:

Karate
Sejumlah kontingen yang bertanding di cabor karate juga kecewa dengan kepemimpinan wasit dan juri.
 
Momen pertikaian muncul saat semifinal beregu putri yang mempertandingan Sulawesi Selatan kontra DKI Jakarta. Saat itu, ofisial dan suporter Sulsel sempat mengamuk karena merasa dirugikan oleh wasit.
 
Tidak selesai sampai di situ, kepemimpinan wasit dari cabor karate yang dianggap buruk juga dirasakan oleh Ketua Umum PB Federasi Olahraga Karate Indonesia (Forki), Gatot Nurmantyo. Pria yang juga Panglima TNI tersebut bahkan mengekspresikan kekesalan dengan menolak pengalungan medali dan mengacungkan jempol terbalik kepada para juri.

Berkuda
Kericuhan dari ranah berkuda dipicu dengan adanya peraturan secara mendadak dari panita penyelenggara. Peraturan tersebut adalah memberikan dua wildcard kepada joki Jawa Barat agar bisa melaju ke final tanpa melewati babak penyisihan.
 
Sontak, peraturan tersebut langsung diprotes keras sebagian besar kontingen yang ikut berlomba. Di antaranya, Sulawesi Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Riau, Sumatera Barat, dan Kalimantan Barat.
 
Biliar
Tidak jauh berbeda dari cabor berkuda, sejumlah peserta cabor biliar juga kecewa dengan peraturan-peraturan yang diganti secara mendadak. Merujuk pernyataan kontingen DKI Jakarta, beberapa nomor yang dipertandingkan dalam SEA Games malah tidak dimainkan dalam PON 2016. Beruntung, protes dari cabor biliar masih bisa diatasi.

Senam Artistik
Kericuhan dari senam artistik terjadi ketika nomor gelang-gelar dipertandingkan di GOR Arcamanik, Kamis 22 September. Saat itu, wasit dianggap tidak tegas dalam menentukan peraih medali emas.
 
Peraih poin tertinggi dalam lomba tersebut adalah atlet Jawa Timur, Dwi Samsul Arifin. Namun putusan berubah usai protes diberikan ofisial Riau. Seketika, wasit memutuskan untuk memberikan medali emas kepada Dwi dan atlet Riau.
 
Drumband
Drumband yang bukan termasuk olahraga SEA Games atau multievent internasional juga ricuh di PON 2016 Jam. Kericuhan itu terjadi ketika KONI Aceh dan perwakilan tim DKI Jakarta memprotes keputusan dewan juri pada hasil Final LUG yang dimenangkan Provinsi Banten. Imbas kericuhan tersebut, Bupati Bogor Nurhayanti yang sedang menyaksikan lomba di Gedung Kesenian, Kabupaten Bogor, terpaksa dievakuasi.

Sepatu Roda
Ricuh di cabor sepatu roda disebabkan karena fasilitas pertandingan yang kurang memadai. Olahraga yang mengedepankan kecepatan itu mengundang banyak protes karena menggunakan stopwatch manual. Kemudian, pengumuman catatan waktu juga baru diinformasikan setelah seluruh atlet selesai berlomba.

Tinju  
Kericuhan dari cabor tinju melibatkan kontingen Jawa Barat. Kejadian itu mengarah ke tindakan anarkis. Percikan keributan dipicu oleh protes yang dilakukan ofisial Kalimantan Timur dan dan Papua.
 
Lantaran kesal, kontingen Kaltim membanting komputer yang digunakan oleh wasit pertandingan. Insiden itu membuat pertandingan ditunda. Sedangkan protes yang diutarakan Papua hanya dilakukan secara verbal.

Menembak
Cabor menembak yang berlangsung di Lapang Tembak Cisangkan juga tercoreng karena fasilitas pertandingan yang kurang memadai. Kualitas alat penghitung skor yang buruk diprotes oleh kontingen Sumatera Selatan, Kalimantan Timur dan DKI Jakarta.

 


(HIL)