Profil Atlet Asian Para Games Jaenal Aripin

Diamputasi justru Membuat Jaenal Aripin Berprestasi

A. Firdaus    •    19 Maret 2018 13:23 WIB
olahragaasian para games
Diamputasi justru Membuat Jaenal Aripin Berprestasi
Jaenal Aripin. (Foto: medcom.id/ A.Firdaus)

Solo: Mengalami insiden kecelakaan dan kaki harus diamputasi seakan menjadi kiamat kecil bagi seseorang. Tapi kenyataan pahit itu justru menghadirkan hikmah buat Jaenal Aripin.

Jaenal merupakan atlet Pelatnas Asian Para Games 2018. Ia akan memperkuat Indonesia pada tiga nomor sprint kursi roda, yaitu 100, 200, dan 400 meter.

Tak pernah ia sangka sebelumnya kalau sekarang ini Jaenal sebagai salah satu andalan Merah Putih. Padahal rasa putus asa sempat hadir usai dirinya mengalami kecelakaan yang membuat kakinya harus diamputasi.

Kejadian pahit bermula saat ia masih berusia 18 tahun. Ketika itu, Jaenal mengalami kecelakaan sepeda motor pada 2006.

Baca: Klasemen Pembalap usai MotoGP Qatar 2018


Tak punya tubuh yang sempurna membuat Jaenal menapaki hidup tanpa arah. Ia terpuruk dan butuh waktu lama untuk bangkit. Beruntung ia punya keluarga yang selalu menyemangati dan mendukungnya setiap saat, demi bisa melanjutkan hidupnya.

"Istri saya justru yang menemani saya dari nol, Saya ketemu dia saat saya sudah mengalmi insiden. Saya bangga punya istri seperti dia, bisa menerima saya apa adanya. Mungkin kalau saya normal, saya belum tentu bisa dapat 10 juta dari kerja," ujar Jaenal saat ditemui di Stadion Sriwedari, Solo.

Titik terang dari 'kehidupan keduanya' terjadi ketika ia diajak teman untuk mencoba keluar dari rasa keputusasaannya itu. Jaenal mulai mencari aktivitas dan menggeluti olahraga atletik kursi roda pada 2014.

"Setelah insiden 2006, saya sempat cukup lama terpuruk dan mulai ingin mengenal olahraga ini. Kira-kira pada 2014. Dari situ saya coba-coba diajak teman dan sampai sekarang saya menikmatinya," ujar Jaenal kepada wartawan.

Hikmah di Balik Insiden 

Berawal dari ajakan teman itu, Jaenal menyalurkan bakatnya di olahraga dengan balap kursi roda sampai akhirnya ia tergabung dengan National Paralympic Committee (NPC).

Tiga tahun ia berlatih. Pada saat itu, ia juga harus berjuang. Selain persiapan fisik, peralatan yang sulit didapat menjadi kendala baginya untuk berprestasi. Tapi lagi-lagi ia tetap menikmati proses tersebut. Hingga mengantarnya ke panggung internasional pertama.

Pria asli Sumedang itu terjun memperkuat Indonesia pada ASEAN Para Games yang digelar di Kuala Lumpur. Pada momen itu, Jaenal turun di tiga nomor spesialisnya, 100 meter, 200 meter, dan 400 meter. Jaenal pun pulang dengan perolehan dua medali perak dan satu perunggu.

"Saya akhirnya lupa aja dengan kondisi saya seperti itu. Intinya ada kemauan meski kita disabilitas ini," singkatnya.

Kini dari hasil membela Indonesia di ASEAN Para Games, ia mampu membangun rumah hasil bonus yang diberikan oleh pemerintah. Serta memberikan kehidupan yang layak untuk istri dan anaknya yang baru berusia satu setengah tahun.

Baca: Daftar Lengkap Peraih Juara All England 2018


Kendala Menuju Asian Para Games 2018

Jaenal pun menatap dengan optimisme yang tinggi menghadapi Asian Para Games, yang kebetulan akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. 

Bertanding di depan publik sendiri, Jaenal ditugaskan bisa memberikan perak dengan tiga nomor yang ia ikuti. Berbagai latihan pun ia telah garap. Termasuk persiapan mental dan fisik yang menjadi menu utama.

Soal kendala bisa terjadi dari berbagai sisi. Selain masalah pengadaan alat, cuaca disinyalir bisa menjadi faktor utama kesuksesannya di lapangan.

"Mungkin kalau kami selama ini program masih jalan terus, selain alat juga cuaca. Sebab lintasan harus kering. Saya juga mengayunnya ini pake sarung tangan yang dilapisi karet dan pegangan roda juga dilapisi karet. Kalau karet ketemu karet lalu kena air hujan bisa licin jadinya," jelas pria berusia 30 tahun ini.

Mengenai kekuatan negara lain, Jaenal menganggap Thailand dan Tiongkok selalu menjadi rivalnya. Apalagi Thailand yang memiliki atlet cukup banyak.

"Meski begitu saya tetap optimis, siapa lagi kalau bukan kita. Meski lawan-lawan kami berat, tapi semua masih bisa. Soalnya ini olahraga terukur jadi siapa pun bisa berpeluang," terang Jaenal.

Kurangnya Regenerasi

Dari nomor balap kursi roda Indonesia hanya menurunkan dua atlet, termasuk Jaenal. Ia pun menyadari susahnya regenerasi yang ada. Tak seperti di Thailand, banyak atlet difabel yang berani keluar untuk berprestasi.

"Untuk regenerasi di sini masih susah. Kalau di Thailand mudah dikumpulin dan ada banyak yang ikut untuk nomor-nomor yang diturunkan," ujar Jaenal.

Untuk itu, ia berharap adanya regenerasi yang mau berani keluar dari keterpurukan masa lalu. Tentunya itu semua harus diawali dengan kemauan untuk berprestasi.

"Buat teman-teman enggak usah malu dengan dengan kekurangan kita. Selama ada kemauan, pasti ada jalan. Jangan pernah menyerah dengan keadaan, kalau misalkan kita bisa menyalurkan bakat kita, ya disalurkan," harapnya.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Kevin/Marcus Pertahankan Gelar Juara All England


(ASM)