Dinamika SEA Games 2017 dan Manfaatnya untuk Indonesia (1)

Kautsar Halim    •    06 September 2017 22:51 WIB
sea games 2017
Dinamika SEA Games 2017 dan Manfaatnya untuk Indonesia (1)
SEA Games Kuala Lumpur 2017 resmi ditutup.

Metrotvnews.com, Jakarta: SEA Games 2017 Malaysia resmi ditutup pada Rabu 30 Agustus lalu. Seremoni penutupannya berlangsung megah dan meriah di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur. 

Berbagai pihak, khususnya pemerintah Malaysia menganggap penyelenggaraan SEA Games 2017 berlangsung sukses. Terlebih lagi, ketika kontingen mereka diputuskan menjadi juara umum.

Namun kenyataannya, kualitas SEA Games 2017 bisa dibilang belum lebih baik ketimbang penyelenggaraan sebelumnya. Dominasi tuan rumah dalam mengatur sebuah pertandingan masih kental dan terdapat kesalahan mendasar yang dilakukan. 


Klik: Nasib 8 Atlet yang Mengajukan Banding ke Dewan Anti-Doping Nasional


Mungkin, nilai plus Malaysia terletak dari kualitas venue pertandingan yang digunakan. Selain itu, akses transportasi menuju venue pertandingan juga mudah dijangkau dengan kendaraan pengangkut massa. 

Masih banyak dinamika seputar SEA Games 2017, berikut rangkuman dari Metrotvnews.com: 

Bendera Terbalik
Salah satu kesalahan mendasar di SEA Games 2017 bisa terlihat ketika bendera Indonesia dicetak terbalik dalam salah satu halaman buku souvenir  yang dibagikan saat seremoni pembukaan berlangsung. Insiden itu memicu kekesalan seluruh warga Indonesia karena bendera merupakan salah satu simbol sebuah negara yang dijunjung tinggi.

Beruntung, pihak Malaysia cepat tanggap terhadap kesalahan yang mereka lakukan. Konflik pun bisa diredam setelah Menpora Malaysia Khairy Jamaluddin meminta maaf secara langsung lewat jejaring sosial maupun bertemu secara resmi dengan Menpora Indonesia, Imam Nahrawi. 

Kecurangan Tuan Rumah
Malaysia selaku tuan rumah keluar sebagai juara umum setelah mengoleksi 145 emas, 92 perak, dan 86 perunggu. Kebanyakan dari medali emas yang mereka peroleh berasal dari nomor-nomor olahraga tak terukur seperti loncat indah, pencak silat, wushu, atau karate.

Indikasi kecurangan tuan rumah terlihat jelas dari cabor pencak silat karena para atletnya yang belum bisa berbicara banyak di level Asia malah keluar jadi juara. Kondisi ini sangat disayangkan karena kontingen Indonesia yang menurunkan atlet berlevel dunia hanya mendapat sepasang emas. Hal seperti ini juga terjadi di cabor taekwondo, wushu, dan cabor seni bela diri lainnya.


Klik: Temui Menpan-RB, Menpora Realisasi Bonus PNS Peraih Emas SEA Games


Tim sepak takraw putri Indonesia juga merasa dicurangi ketika berhadapan dengan Malaysia pada semifinal. Mereka bahkan nekat melakukan walk out (WO) atau meninggalkan lapangan di tengah pertandingan setelah wasit menyatakan telah terjadi kesalahan servis sebanyak lima kali.
 
Kendati sadar telah dicurangi, kontingen Indonesia maupun negara lainnya tidak banyak yang melakukan protes kepada pihak juri. Kebanyakan dari mereka juga cukup mengerti bahwa kecurangan ini merupakan warisan budaya yang terjadi ketika menjadi tuan rumah.

Panitia Belum Siap
Panitia Penyelenggara SEA Games Malaysia (Masoc) terkesan tidak serius ketika menangani event olahraga yang bukan andalan Malaysia atau tidak sedang dimainkan Malaysia. Itu bisa terlihat lewat cabor sepak bola dan pencak silat.

Timnas sepak bola Indonesia merasa sangat dirugikan ketika harus memainkan dua laga fase grup di Stadion Selayang, Selangor. Tribun di stadion itu tidak bisa menampung seluruh suporter Indonesia yang datang, kemudian lapangannya pun dianggap lebih kecil. 

Imbas buruknya pelayanan panitia, suporter Tanah Air ada yang sempat terlibat bentrok dengan petugas keamanan dalam laga Indonesia vs Vietnam. Saat itu, situasi tak terkendali karena suporter Indonesia belum diperbolehkan masuk ke stadion meskipun sudah memiliki tiket.

Salah satu polisi Malaysia sempat berbicara kepada Metrotvnews.com ketika insiden itu terjadi. Menurutnya, pihak keamanan stadion harus menggeledah tiap suporter yang datang sehingga proses untuk masuk stadion pun menjadi lebih lama. Pasalnya, kata dia, suporter Indonesia dikenal tidak tertib dan sering membawa benda terlarang seperti tongkat selfie, petasan atau botol minuman.

Sekalipun disebutkan pihak keamanan Malaysia sangat disiplin, namun itu malah tidak terjadi ketika Malaysia bentrok kontra Indonesia pada semifinal di Stadion Shah Alam. Saat itu, suporter tuan rumah malah bisa menyalakan petasan ketika laga berlangsung. Saking besarnya ledakan petasan itu, salah satu penggawa Indonesia juga sempat terluka.

Selain sepak bola, ketidaksiapan panitia juga bisa terlihat ketika cabor pencak silat memainkan hari terakhir. Saat itu, venue pencak silat yang tadinya berada di salah satu hall Kuala Lumpur City Center (KLCC) malah dipindahkan ke Komplek Olahraga Bukit Kiara. Beredar kabar, venue terpaksa dipindah agar bisa menampung suporter tuan rumah lebih banyak. 

Pencapaian Indonesia
Indonesia menurunkan 533 atlet untuk tampil di 38 cabor di SEA Games 2017. Namun, mereka gagal mencapai target karena Indonesia kembali bertengger di urutan lima peraih medali terbanyak ketika event berakhir. 

Secara keseluruhan, Indonesia memang menjadi pemilik medali terbanyak ketiga di antara 10 negara peserta lainnya. Namun rinciannya adalah 38 emas, 63 perak dan 90 perunggu. Jumlah tersebut masih berselisih 19 emas dengan Singapura yang bertengger di urutan empat.  

Selain mempermasalahkan kecurangan Malaysia, berbagai pengurus cabor yang gagal mencapai target medali emas juga banyak yang menyatakan bahwa persiapan mereka sudah terkendala ketika masih berada di Tanah Air. Kendala itu tak lepas dari soal finansial yang membuat tertundanya uang saku atlet, pengadaan peralatan bertanding, hingga ketersediaan suplemen.
 




(ACF)