Indonesian Masters 2017

Kehadiran Pegolf Asing jadi Pelajaran Berharga buat Atlet Indonesia

Gregah Nurikhsani Estuning    •    17 Desember 2017 21:41 WIB
golf
Kehadiran Pegolf Asing jadi Pelajaran Berharga buat Atlet Indonesia
Justin Rose (merah) memukul bola di green pada hole 15. (Foto: Gregah/Medcom-id)

Jakarta: George Gandranata boleh gagal menemui targetnya di Indonesian Masters 2017, namun bisa berkompetisi dengan pegolf dunia merupakan salah satu pelajaran berharga buat dia dan pegolf lokal lainnya.

Justin Rose, Kiradech Aphibarnrat, Scott Vincent, dan Phachara Khongwatmai adalah sedikit dari lusinan pegolf asing yang ikut berkompetisi di event yang masuk kalender Asian Tour itu. Brandt Snedeker juga turut meramaikan event golf penutup tahun 2017 ini.

Sementara itu, terdapat 26 pegolf Indonesia yang ikut ambil bagian di turnamen yang bertempat di Royale Golf Club tersebut. Menurut George, pegolf nomor satu Indonesia, keberadaan pegolf kelas dunia merupakan daya tarik sendiri baik itu untuk turnamen mau pun pengalaman pribadi pegolf lokal.

Klik di sini: Bungkam Wakil Tiongkok, Marcus/Kevin Juara DWSSF 2017

"Oh bagus sekali ya, karena saya dari kecil suka Brandt Snedeker, Justin Rose saya dengar ceritanya, karier dia hebat sekali. Bisa bertemu dia, berkompetisi dengan dia, sangat luar biasa, sebab saya bisa tahu bagaimana dia bermain, mengatasi tekanan. Justin dapat 29-di bawah par itu wow sekali apalagi cuma empat hari," kata George kepada Medcom.id.

"Buat pegolf lokal adalah pembelajaran ya, karena memang mereka sangat suka Justin Rose, semua orang mengagumi dia, dia kan beda level dengan kita. Jadi, memang itulah yang ingin kita capai, saya kira cita-cita kita bisa dipatok dari apa yang diraih Justin," sambungnya.

Semula, George menargetkan bisa menembus 10 besar, namun sayang tujuan itu tidak terpenuhi. Tapi, George tetap bangga dengan raihannya karena tahun ini lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Klik di sini: Ganda Campuran Tiongkok Pertahankan Gelar DWSSF

"Tujuan saya adalah dapat top 20 atau top 10, tapi tidak tercapai, ini menjadi pelajaran buat saya, main agresifnya telat. Akan tetapi ini hasil yang baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2015 tidak masuk, 16 juga tidak masuk, 2014 yang terbaik, ini jadi pemicu untukk bermain lebih baik lagi di tahun berikutnya," tambah George.

"Saya pribadi, kenapa, karena ada tekanan di tahun sebelumnya. 2014 saya bermain sangat bagus, jadi 2015 dan 2016 ada tekanan besar. Tahun ini, saya coba rileks, dan tahun depan saya akan coba untuk main lebih fun saja," pungkasnya.

Tumbangkan Hang Tuah, Bima Perkasa Raih Kemenangan Kedua
 


(FIR)