Taufik Muchsin, Atlet Paralayang yang Selamat dari Gempa Palu

M. Rizky Adhestian    •    01 Oktober 2018 09:10 WIB
gempa
Taufik Muchsin, Atlet Paralayang yang Selamat dari Gempa Palu
(Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Palu: Taufik Muchsin, merupakan atlet paralayang Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) yang selamat dari bencana gempa di Palu. Ia bercerita pengalamannya saat berjuang menyelamatkan diri dari bencana alam tersebut.

Gempa berkekuatan 7,4 skala richter pada 28 September silam mengguncang daerah Palu, Sulawesi Tengah. Gempa yang terjadi sekitar pukul 18:00 WITA tersebut sempat menyebabkan tsunami hingga 1,5 meter di beberapa titik.

Menurut pengakuannya, Taufik bersama rekan-rekan atlet lainnya yang berjumlah sepuluh orang tengah berada di mal PGM. Mereka lalu pulang ke penginapan mereka di Guest House Borneo.

Taufik menjelaskan tempat singgahnya tersebut berjarak satu kilometer dari bibir pantai dan lima kilometer dari Hotel Roa-Roa. Hotel Roa-Roa merupakan tempat yang disinggahi beberapa atlet dan ofisial lainnya dari paralayang. Bangunan itu hancur akibat bencana tersebut.

"Setelah gempa yang magrib itu, kita ada sebelas orang sepakat untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, artinya kita harus menjauhi bibir pantai," ujar Taufik dalam wawancara bersama MetroTV.

Baca: INAPGOC Siap Galang Dana untuk Palu dan Donggola

"Di jalan itu tidak terbayang kacaunya. Saya bersama teman saya pakai motor, sembilan lainnya pakai mobil bak, dan kita terpisah. Di situ jalannya tidak longgar, banyak manusia mulai dari yang jalan kaki, pakai motor, pakai mobil. Jalannya juga tidak mulus, ada yang bergelombang dan ada yang ambles," lanjut dia.

Taufik mendapatkan tempat berlindungnya di area berketinggian 139 meter di atas permukaan laut. Dari bibir pantai, tempat tersebut berjarak enam kilometer.

Tempat ia berlindung tersebut dijelaskan merupakan tempat terbuka yang jauh dari gedung dan pepohonan, seperti ladang. Menurut pantauannya, terdapat lebih dari 500 jiwa yang menyelamatkan diri di tempat tersebut.

"Di tempat pengungsian itu mulai dari jam 7:00 pagi hingga jam 24:00 saya terjaga. Gempa susulan itu rasanya tidak enak sekali," kata Taufik.

"Di tempat ini saya bertahan hingga jam 3:00 pagi, karena waktu itu saya masih bisa komunikasi dengan grup sembilan orang terpisah via WhatsApp. Akhirnya kita memutuskan berkumpul di lapangan bola Silae, yang sebenarnya ketinggiannya 40 meter dari permukaan laut."

"Tapi kita memutuskan itu karena bahaya tsunami sudah mulai kecil, akhirnya memutuskan berkumpul untuk lebih baik," lanjut dia.

Sementara hingga Minggu 30 September kemarin, sedikitnya 10 atlet dan ofisial tim paralayang masih dinyatakan hilang. Tujuh atlet yang belum dapat dipastikan kabarnya yakni Reza Kambey, Ardi Kurniawan, Fahmi Malang, Franky Kowaas, Petra, Glenn Mononutu, dan Dong Jin.

Atlet dan ofisial tersebut diketahui tengah mengikuti kejuaraan dunia paralayang. Kejuaraan tersebut merupakan olahraga lintas alam, yang mengambil tempat di Gunung Salena.




(FIR)