Kasus pengaturan skor IBL

Pengaturan Skor, Erick Thohir Puji Ketegasan Perbasi

Patrick Pinaria    •    24 November 2017 13:42 WIB
basket indonesia
Pengaturan Skor, Erick Thohir Puji Ketegasan Perbasi
Erick Thohir (Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Jakarta: Sebanyak sembilan nama dipastikan terlibat dalam kasus pengaturan skor pada kompetisi Liga Bakset Indonesia (IBL) musim 2016--2017. Kesembilan nama tersebut merupakan bagian dari klub Siliwangi Bandung yang terdiri dari delapan pemain dan satu ofisial tim.

Kedelapan pemain itu adalah Ferdinand Damanik, Tri Wilopo, Gian Gumilar, Haritsa Harlusdityo, Untung Gendro Maryono, Fredy, Vinton Nolan Surawi, dan Robertus Riza Raharjo. Sedangkan, satu ofisial tim itu adalah Zulhilmi Fatturohman.

Aksi tidak terpuji kesembilan pelaku tersebut sudah diketahui Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi). Mereka pun memutuskan telah menghukum seluruh pelaku tersebut, yakni berupa larangan beraktivitas di bola basket. Namun, masing-masing mendapat sanksi dengan durasi berbeda.

Perbasi lantas mendapat pujian atas tindakan mereka memberikan sanksi kepada kesembilan pelaku tersebut. Pujian itu dilontarkan oleh Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Erick Thohir. 

"Saya tentu salut dengan Perbasi dan IBL. Pelanggaran yang terjadi ini tidak ditutupi mereka dan mereka justru terbuka. Ini menunjukkan mereka masih ingin introspeksi diri bahwa mereka tidak sempurna," ujar Erick.

"Mereka pun memberikan sanksi berat kepada para atlet atau ofisial. Tetapi, saya juga menyambut sangat positif karena tidak hanya pemain yang juga akan diberikan sanksi, tetapi Perbasi juga menyatakan akan tegas kepada para petinggi klub jika ada yang terlibat," lanjutnya.

Ferdinand Damanik, pemain asal JNE Bandung Utama menjadi pemain yang diganjar sanksi paling berat. Pemain berusia 29 tahun itu tak boleh terlibat di bola basket Indonesia selama lima tahun. 

Sementara itu, Wilopo, Gian, Haritsa, dan Untung mendapat sanksi empat tahun. Khusus Vinton, Fredy, dan Riza mendapat sanksi tiga tahun. Nama terakhir yakni Zulhilmi mendapat skors dua tahun.

 


(KRS)