Gempa Bumi dan Tsunami di Palu

Cerita Tagor Siagian, Humas PB FASI yang Selamat dari Gempa di Palu

Alfa Mandalika    •    02 Oktober 2018 18:38 WIB
olahragagempa bumi
Cerita Tagor Siagian, Humas PB FASI yang Selamat dari Gempa di Palu
Tim SAR melakukan evakuasi korban gempa yang tertimbun reruntuhan bangunan hotel Roa-Roa di Palu. (Foto: Antara/Prasetyo)

Jakarta: Indonesia dilanda bencana alam. Gempa bumi dengan kekuatan 7,4 SR dan disusul gelombang tsunami meluluhlantakkan Kota Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, 28 September silam.

Tepat pada hari itu, terdapat sejumlah atlet Paralayang yang berada di Palu untuk melakoni Kejuaraan Terbuka Lintas Alam Paralayang Nomoni. Pada kesempatan yang sama, ada juga pengawas dari FAI (Federation Aeronautique Internationale), Andika Munir dan Humas PB FASI (Pengurus Besar Federasi Aero Sport Indonesia), Tagor Siagian. Namun, Munir sudah pulang lebih awal pada Kamis 27 September.

"Pengawas FAI Andika Munir sudah pulang duluan Kamis (27/9) pagi. Makanya saya pakai kamar dia. Tadinya saya di samping (Hotel) Mercure, lalu pindah kamar ke tempat pak Munir yang jauh dari pantai. Kalau tidak pindah saya kemungkinan kena dampak gempa. Itu kan kejadiannya Jumat sore gempa dan tsunaminya," kata Tagor ketika berbincang dengan medcom.id via sambungan telepon, Selasa 2 Oktober 2018.

"Saat gempa, saya posisi sedang di kamar, sedang mengedit foto dan kirim foto, sekalian istirahat karena malamnya akan ada pembukaan festival budaya Nomoni di pantai itu hari Jumat, lalu jam 3 sore gempa pertama, tidak begitu besar, karena saya pernah merasakan gempa di Jakarta dan Depok, jadi diam saja. Di sebelah saya, teman sedang tidur saya tidak bangunkan karena cuma beberapa detik gempanya," tutur Tagor.

Baca: Lagi, Atlet Paralayang Ditemukan Meninggal Dunia di Palu


"Terus ada gempa kedua atau langsung yang besar, saya lupa, pas gempa yang besar, kita langsung terpental. Merangkak dulu kita keluar, kurang dari satu menit gempanya berhenti, kita masuk lagi, karena harus mengambil handphone untuk komunikasi, saya ambil laptop dan kamera. Lalu ada alat namanya tracker untuk merekam jejak atlet kalau terbang, itu harganya mahal, itu kita amankan di koper. Ada 70 buah tracker, saya langsung mengingatkan teman-teman soal mengamankan tracker jangan sampai lupa. Jadi barang-barang mahal kita selamatkan, lalu kita keluar ke lapangan terbuka," terang Tagor. 

"(Setelah gempa) Pukul setengah 3 pagi kita balik lagi ke penginapan ambil baju, kalau baju ditinggal, tidak apa-apa. Kita saling berkomunikasi dengan HT, karena sinyal handphone terganggu waktu mati lampu. Kami semua berada di lapangan terbuka, yang penting terbuka, jangan dekat gedung dan tiang listrik. Dan saat itu setiap setengah jam ada gempa susulan meskipun kecil," terang Tagor.

Tagor menjelaskan, rekan-rekan yang lain sudah bersepakat untuk bertemu di satu titik dan bersiap berangkat menuju bandar udara pada Sabtu 29 September. Tagor dan rombongan akhirnya menggunakan pesawat Hercules TNI AU karena mereka masuk rombongan TNI AU saat mengikuti Festival Tahunan Pesona Palu bersama rombongan 20 pilot, pelatih, dan staf ahli panitia dari Jakarta.  

"Kita melakukan komunikasi lewat HT, kita ketemu satu titik, baru mengarah ke bandara jam 11 siang, akhirnya pukul 15:15 WITA kita terbang dan transit di Makassar. Teman-teman dari Jawa Timur turun di Makassar, karena besok subuhnya Hercules ke Malang, jadi sampai Jakarta ada enam sampai tujuh orang jam 8 malam," kata Tagor.

Imbas dari gempa dan tsunami yang terjadi, empat pilot Paralayang Indonesia meninggal dunia. Mereka ialah Petra Mandagi, Glenn Mononutu, Ardi Kurniawan, dan Franky Kowaas. Mereka ditemukan oleh tim evakuasi di reruntuhan Hotel Roa-roa, Palu.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Atlet Panahan Asian Para Games Optimistis Raih Emas


(ASM)