Bintang PON 2016

Maulana Haidir: Taekwondo Bukan Sekadar Prestasi dan Ilmu Bela Diri

Kautsar Halim    •    26 September 2016 02:28 WIB
pon 2016
Maulana Haidir: Taekwondo Bukan Sekadar Prestasi dan Ilmu Bela Diri
Maulana Haidir. (Foto: MTVN/Zam)

Banyak faktor yang membuat seseorang tertarik untuk menggeluti sebuah ilmu bela diri. Ada yang ingin menjaga kesehatan, sekadar iseng-iseng, atau bahkan karena orang tersebut memang memiliki hobi berkelahi. Namun, jangan disamakan dengan alasan Maulana Haidir yang akhirnya memilih serius dengan Taekwondo.

“Bagi saya, Taekwondo bukan sekadar ilmu bela diri dan meraih prestasi. Di sini saya jadi bisa belajar attitude, sopan santun sama teman, pelatih, pengurus dan yang lainnya. Itulah alasan yang membuat saya betah di Taekwondo,” kata Maulana yang menyempatkan diri berbincang dengan Metrotvnews.com seusai meraih dua keping emas untuk Jawa Barat, Minggu 25 September.

Maulana yang saat ini berusia 25 tahun berhasil meraih dua medali emas ketika bertanding dalam nomor poomsae individu dan beregu putra di Gedung Gymnasium UPI, Bandung. Prestasi itu tidak didapat dengan mudah karena Maulana memang seorang pekerja keras, memiliki semangat pantang menyerah, dan rela berkorban.

Latar Belakang
Bermula ketika masih berusia 9 tahun atau saat duduk di bangku SD kelas 3, Maulana kecil akhirnya bisa mengenal taekwondo untuk pertama kali. Saat itu, Taekwondo masih dianggapnya sebagai kegiatan sampingan dan belum muncul niatan untuk berkecimpung secara serius.

“Pertama kenal Taekwondo diajak sama Om saya. Awalnya, memang enggak tahu itu ilmu bela diri apa. Tapi lama-lama malah senang, jadi hobi dan bahkan memilihnya sebagai profesi seperti sekarang ini,” kata Maulana yang juga atlet Pelatnas tersebut.

Hobi baru yang terus-menerusi ditekuni itu akhirnya berbuah manis ketika Maulana lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pasalnya, saat itu Sekolah Olahraga (SKO) Ragunan mulai tertarik untuk memfasilitasinya dan mengajak untuk pindah ke Jakarta.

Restu Orang Tua
Tidak ada problem khusus ketika Maulana akhirnya memilih meninggalkan Bogor dan jarang bertemu kedua orang tua demi mengejar cita-cita. Kendala itu bisa teratasi dengan baik karena orang tuanya memang mendukung sekali keinginan anaknya.

“Orang tua pasti sangat mendukung sekali, karena dari SMA, saya sudah enggak hidup bersama. Saat itu, saya sudah tinggal di asrama Ragunan dan hanya boleh pulang pada Sabtu-Minggu saja. Sampai dengan lulus SMA, masuk Pelatda serta Pelatnas, kebiasaan jarang pulang itu masih tetap berlanjut hingga sekarang,” ujar Maulana.

“Orang tua saya sungguh mengerti kondisi tersebut. Padahal, saya juga pernah tidak pulang lebaran sebanyak empat kali karena sedang berada di Korea Selatan,” tambahnya sambil melempar senyum.

Maulana merupakan anak semata wayang dari pasangan Siti Khuairah dan Eddy Freddy. Sejatinya, ia memang kurang betah berada rumah karena sering merasa kesepian. Adanya tawaran berlatih dari SKO Ragunan maupun Pelatnas merupakan sebuah kebahagiaan karena Maulana akhirnya bisa bertemu teman-teman baru yang sejalan.

Hampir Putus Asa
Sekilas, Maulana memang tampak ceria ketika menerima medali sambil merayakan kemenangan. Namun, ekspresi itu hanyalah sebagian kecil kesenangan dari hari-harinya yang dilalui dengan disiplin tinggi.

Seperti dipaparkan Maulana, sesi latihannya saja memakan waktu hingga delapan jam. Kemudian, celah liburannya hanya Sabtu pagi hingga Minggu malam. Kondisi tersebut belum ditambah lagi dengan cedera parah yang membuatnya harus pindah nomor dari kyorugi ke poomsae.

“Awalnya saya main di kyorugi. Tapi, tulang saya sempat patah pada 2008. Dari situ saya mulai belajar poomsae karena bermanfaat juga untuk proses pemulihan. Waktu itu, saya sempat putus asa karena enggak mengerti poomsae sama sekali dan tidak boleh sparring lagi. Tapi, karena ada kemauan keras untuk eksis di Taekwondo, akhirnya saya mampu melakukannya,” ujar pria yang hobi menonton film tersebut.

Maulana Haidir berpose dengan medali emas PON 2016 Jabar

Berbuah Manis
Cedera telah pulih, masa kelam berganti cerah. Maulana yang tadinya tampil di kyorugi malah mampu berprestasi lebih baik ketika bermain di nomor poomsae. Meski tidak boleh bertarung bebas lagi, prestasinya malah menjadi lebih baik ketika hanya tampil memperagakan jurus-jurus taekwondo.

Setelah PON 2016, Maulana belum bisa liburan. Ia harus kembali ke Pelatnas pada awal Oktober untuk mempersiapkan diri menuju SEA Games 2017 Singapura. Sepasang medali emas yang didapatnya saat ini terasa manis sekali karena bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang jatuh pada 25 September.

Hari ulang tahun dan kemenangan Maulana langsung disambut baik pihak keluarga yang datang langsung ke arena pertandingan. Suasana seperti ini sudah lama Maulana rindukan karena jarang tercipta pada hari-hari biasa.

“Saat ini, orang tua saya datang, tante-om, nenek dan saudara lainnya juga ada ada di sini. Kalau dihitung selama karier saya di Taekwondo, momen ini adalah yang ketiga kalinya mereka menonton langsung pertandingan saya. Selama ini mereka memang jarang menonton langsung karena event untuk poomsae lebih banyak di luar negeri,” tutup Maulana.

Data Diri
Nama Lengkap: Maulana Haidir
TTL: Bogor, 25 September 1991
Profesi: Atlet taekwondo
Hobi: Menonton film
Ibu: Siti Khuairah
Ayah: Edi Freddy
Prestasi: Medali perak SEA Games 2015  
               Medali emas PON 2016





Seremoni pengalungan medali PON 2016 untuk taekwondo poomsae


(KAU)