Start dari Pesantren, Pembalap Tour de Banyuwangi-Ijen Pakai Sarung

Tri Kurniawan    •    30 September 2017 11:16 WIB
itdbi banyuwangi
Start dari Pesantren, Pembalap Tour de Banyuwangi-Ijen Pakai Sarung
Etape 4 ITdBI 2017 dimulai dari Pondok Pesantren Darussalam di Dusun Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan, Tegalsari, dan berakhir di kantor bupati Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu 30 September (Foto:Metrotvnews.com/Tri Kurniawan)

Metrotvnews.com, Banyuwangi: International Tour de Banyuwangi-Ijen (ITdBI) 2017 berbeda daripada ajang balap sepeda lainnya. Start etape 4 mengambil lokasi di pondok pesantren. Sebelum balapan, para pembalap menggunakan sarung dan kopiah.

Etape 4 dimulai dari Pondok Pesantren Darussalam di Dusun Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan, Tegalsari, dan berakhir di kantor bupati Banyuwangi, Jawa Timur. Jarak titik start dengan garis finish sejauh 98,1 kilometer.

Setelah siap dengan kostum balap dan sepeda, para pembalap mengenakan sarung dan kopiah. Pembalap dari luar negeri cukup kerepotan saat melilitkan sarung ke pinggang mereka.

Meski demikian, pembalap sangat menyukai momentum ini. Bob Wallen, pembalap asal Belanda mengaku baru kali ini menggunakan sarung dan kopiah.

"Ini luar biasa dan berbeda. Saya baru kali ini menggunakan pakaian ini," kata Bob kepada Metrotvnews.com, Sabtu 30 September 2017.


(Foto:Metrotvnews.com/Tri Kurniawan)

Sedangkan Amir Kolahdouzhagh, pembalap asal Iran, terkesan dengan kesenian dan kebudayaan di Indonesia, termasuk penggunaan sarung dan kopiah.

"Saya menyukai Indonesia. Ini (sarung dan kopiah) sangat berbeda dengan pakaian di negara kami," ujarnya.

Tidak hanya pembalap, pengurus Federasi Balap Sepeda Internasional (UCI), para tamu dari berbagai negara, dan masyakarat di lokasi start pun mengenakan sarung dan kopiah.


(Foto:Metrotvnews.com/Tri Kurniawan)

Bupati Banyuwangi Abdullab Azwar Anas mengatakan, tujuan ITdBI start dari pondok pesantren adalah untuk menunjukkan kepada dunia bahwa pendidikan berbasis Islam di Indonesia berbeda dengan di negara-negara di Timur Tengah.

"Kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan pesantren itu toleran," kata Anas.

Sedangkan pakai sarung dan kopiah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia. Setelah ini, Anas yakin para pembalap akan mencari informasi lebih dalam melalui media elektronik soal pesantren, sarung, dan kopiah.

"Mereka memang tidak masuk ke kamar-kamar. Tadi beberapa pembalap ketika disuruh pakai sarung dan kopiah, kemudian start dari pesantren, langsung mencari tahu melalui Google. Klik pesantren semua langsung muncul," ujar Anas.


(Foto:Metrotvnews.com/Tri Kurniawan)

Anas baru hari ini menyaksikan langsung ITdBI 2017. Saat etape 1 hingga etape 3, ia bersama Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur ada di Georgia dan Azerbaijan untuk mempelajari pelayanan publik.

Menurut Anas, Georgia dan Azerbaijan, menjadi rujukan dunia dalam hal pelayanan publik. Anas segera menerapkan ilmu pelayanan publik yang ia peroleh dari kedua negara tersebut.

"Segera kami terapkan pelayanan publik yang transparan, tanpa korupsi dan pungutan sepersen pun. Masyarakat akan mendapatkan pelayanan publik sangat baik tanpa biaya," katanya disambut tepuk tangan warga.

Setelah kata sambutan, Anas melepas para pembalap. Para kiai dan ustaz turut menyaksikan pembalap memulai etape 4.


(ROS)