Jelang SEA Games 2017

Timnas Karate Indonesia "Teriak" Kekurangan Dana Akomodasi

Kautsar Halim    •    24 Juli 2017 22:42 WIB
sea games 2017
Timnas Karate Indonesia
Latihan timnas karate Indonesia di apartemen Belezza Suites, Jakarta Selatan. (MTVN/K H Zamrocknight)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pelatih kepala Timnas karate Indonesia Philip King mengutarakan perkembangan timnya jelang SEA Games 2017. Meski optimistis dengan target yang diminta, ia mengaku kecewa dengan sikap Satlak Prima yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah atau Kemenpora. 

Karate bisa dibilang sebagai salah satu cabang olahraga (cabor) unggulan Indonesia di ajang SEA Games 2017. Lewat olahraga yang juga seni bela diri itu, tak jarang mengalir pundi-pundi emas.

Beberapa waktu lalu atau tepatnya pada 15-16 Juli, timnas karate Indonesia menyempatkan diri menjalani try out lewat Kejuaraan Karate Asia di Kazakhstan. Hasilnya cukup memuaskan karena mereka berhasil membawa pulang tiga medali perak dan lima perunggu. 

Medali emas memang belum mampu diboyong Indonesia di Kejuaraan Karate Asia. Namun, delapan medali yang sudah diboyong telah mengangkat Indonesia berada di urutan lima di Asia. Jadi, target dua emas di SEA Games merupakan hal yang realistis.

"Semua persiapan sudah oke. Sebulan ke depan ini, tim sudah tidak perlu melakukan latihan berat lagi. Saat ini, mereka tinggal fokus untuk mempertajam teknik dan menjaga kebugaran saja," kata Philip kepada wartawan di Jakarta, Senin (24/7/2017).

(Baca: Menang Telak atas Singapura, Indonesia ke Semifinal)


"Target dua emas juga realistis karena persiapan kami sangat baik. Namun, untuk mencapai itu harus perlu dukungan dan sokongan yang baik dari pemerintah saja," tambahnya.

Dilanjutkan oleh Philip, dibalik tren positif itu ternyata timnas Karate Indonesia memang sedang terkendala finansial. Ia mengeluhkan tentang biaya akomodasi yang lambat dibayarkan, serta pengadaan peralatan latih tanding yang belum terpenuhi.

Biaya akomodasi itu dijelaskan Philip merupakan berbagai pengeluaran selama menginap dan menjalani pelatnas di apartemen The Belezza Suites, Permata Hijau, Jakarta Selatan. Besarannya Rp500 ribu per orang dan totalnya jika dikalikan selama tiga bulan bisa menyentuh Rp1,2 miliar. Jumlah itu didapat karena  skuat timnas karate Indonesia, termasuk pelatih dan atletnya berjumlah 27 orang.

"Untuk biaya akomodasi bulan Januari, Februari dan Maret saja baru dibayarkan hari ini. Tapi katanya, untuk tiga bulan selanjutnya bakal dibayarkan pada akhir Juli. Saya harap sih itu bisa terwujud dengan benar. Soalnya saya yang berurusan langsung dengan General Manager (GM) Belezza," papar Philip.

Sementara itu untuk kendala pengadaan peralatan latih tanding juga baru menemui titik terang setelah Philip mendesak Satlak Prima pada hari ini. Kabar itu diketahui setelah Philip menelepon Satlak Prima menggunakan pengeras suara dan diperdengarkan kepada wartawan.

"Katanya besok, Selasa (25/7), pihak Satlak Prima mau bertemu saya untuk membahas pengadaan peralatan latih tanding. Tapi, itu baru pembahasannya saja. Untuk realisasi kita tunggu saja besok. Kalau saya sih sudah bosan dijanjikan seperti ini," pungkas Philip.

Sejatinya, pihak Kemenpora yang membawahi Satlak Prima sudah merespons kendala timnas karate Indonesia pada Jumat 21 Juli lalu. Namun, Philip masih tetap mengeluh karena realisasinya belum terwujud sampai dengan berita ini diturunkan.

Video: Chris Froome di Ambang Juara Tour de France 2017
 


(REN)