Srikandi Cup 2017--2018

Tekad Surabaya Fever Menjaga Kesucian di Markas Sendiri

Krisna Octavianus    •    29 Januari 2018 07:36 WIB
basket putri
Tekad Surabaya Fever Menjaga Kesucian di Markas Sendiri
Wellyanto Pribadi (Pelatih Surabaya Fever--paling kiri), Olivia Claudia (Surabaya Fever), Helena Tumbelaka (Merpati Bali), Farhan (Asisten Pelatih Merpati Bali). (Foto: ist)

Surabaya: Perhelatan Kompetisi Basket Putri Srikandi Indonesia (Srikandi Cup) musim 2017-2018 akan memasuki seri kedua yang akan berlangsung di markas Surabaya Fever, di GOR CLS Kertajaya, pada 29 Januari sampai 3 Februari 2018. Sebagai tuan rumah, Surabaya Fever ingin menjaga "kesucian".

Mengacu pada hasil akhir seri pertama Makassar beberapa waktu lalu, tuan rumah Surabaya Fever akan menempati Pool A bersama Tenaga Baru Pontianak, Tanago Fresian Jakarta dan Flying Wheel Makassar. Sedangkan, Merpati Bali yang menjadi runner up, menghuni Pool B dengan Merah Putih Samator Jakarta, Generasi Muda Cirebon, Sahabat Semarang.

Sebagai juara bertahan dan kandidat terkuat untuk merajai Srikandi Cup tahun ini, Surabaya Fever tidak ingin terbebani dengan segala predikat pujian yang tertuju untuk timnya. Meski pada seri kedua nanti akan bermain di rumahnya sendiri,  pelatih Surabaya Fever, Welliyanto Pribadi mengingatkan anak asuhnya untuk tidak demam panggung jika bermain di kandang dan seraya menargetkan menjaga kesucian rumah mereka dari lawan-lawannya.

"Pelatih sudah mengingatkan kami akan hal ini. Mungkin karena para pemain terlalu excited jadinya malah bikin kita main terlalu hati-hati, jadi tidak sesuai dengan ekspetasi pelatih. Kami juga diingatkan untuk tidak boleh puas meski Fever berhasil menjadi juara pada seri pertama kemarin melawan Merpati Bali. Menyambut seri kedua, kita sudah berlatih cukup keras dua kali sehari dan melakukan uji coba dengan tim putra KU CLS," ujar penggawa Surabaya Fever, Olivia Claudia. 

"Hal lain, kami wajib mewaspadai semua tim, tapi kami punya catatan khusus untuk Merpati Bali yang sebagian besar dihuni para pemain muda dan punya kecepatan. Tapi lepas dari semuanya, seluruh pemain sudah bertekad bulat untuk menang di rumah kami sendiri,” lanjutnya.

Mendapat pengakuan dan catatan khusus dari rival terkuatnya, tidak membuat Merpati Bali besar kepala. Helena Tumbelaka, pemain Merpati Bali, menyampaikan bahwa mereka tetap respek pada semua lawan termasuk kepada tuan rumah Surabaya Fever yang di huni oleh pemain Nasional dan diakuinya mempunyai pengalaman lebih dibandingkan timnya.

“Kami selalu mematok target juara di setiap seri. Dalam persiapan Merpati Bali di seri kedua ini, jauh lebih baik dan kompak dibanding seri sebelumnya. Selain latihan rutin yang intensif, kita juga menjaga kekompakan tim di luar lapangan, seperti minggu lalu para pemain dan juga coaching staff baru saja melakukan team building di Bandung. Sayangnya di seri ini kami tidak diperkuat Dita (Agustin Elya Gradita Retong) karena mengalami cedera lutut. Memang ia salah satu pilar di tim ini, tapi justru Dita lah yang membesarkan hati kami bahwa Merpati Bali bisa berprestasi meski tanpanya, karena kami adalah tim, bukan satu atau dua individu pemain," ujar Helena.

“Lawan kami yang kuat salah satunya adalah Surabaya Fever. Karena mereka tim berpengalaman dan sebagian besar dihuni oleh pemain timnas. Tapi kami tidak menjadikan itu sebagai alasan untuk pesimistis. Pasti mereka juga punya lubang yang harus kita maksimalkan. Pelatih kami, Bambang Asdianto Pribadi juga sudah mengevaluasi apa saja kekurangan kami, baik di babak penyisihan hingga saat kami kalah lawan Fever di partai final,” tambahnya lagi.

 


(KRS)