Perjuangan Penjual Martabak di Solo Antarkan Anaknya Jadi Juara Karate Internasional

Pythag Kurniati    •    25 November 2018 13:37 WIB
karate
Perjuangan Penjual Martabak di Solo Antarkan Anaknya Jadi Juara Karate Internasional
Rohman, Nanda dan Nuryani dan gerobak martabak yang digunakan untuk menopang kebutuhan hidup (Foto: Medcom.id/Pythag Kurniati)

Solo: Tak ada yang istimewa dari rumah berwarna krem di Jalan Ponconoko I, Tipes, Serengan, Solo tersebut. Bahkan beberapa cat di bagian pintunya tampak telah mengelupas. Sebuah gerobak bertulis 'Martabak Bagong' terparkir di sisi timur rumah.

Siapa sangka, rumah serta gerobak itu telah menjadi saksi bisu perjuangan Nandana Putra Purnama (11). Nandana adalah sang juara karate tingkat internasional di ajang 3rd edition of International Karate Open of Province de Liege di Belgia pada 14-21 November 2018 lalu.

"Di sini kami masih mengontrak," ungkap ayahanda Nanda, Rohman Sidik Purnomo saat ditemui di rumahnya, Minggu, 25 November 2018.

Baca: Bocah asal Solo Jadi Juara Karate Internasional di Belgia

Nanda, sapaannya, merupakan anak kedua dari pasangan Rohman Sidik Purnomo (41) dan Nuryani Puji Lestari (37). Sehari-hari, Rohman bekerja menjual martabak di Jalan Radjiman, Solo. Rohman berjualan setiap pukul 17.00 WIB hingga 22.00 WIB. Sedangkan istrinya adalah ibu rumah tangga.

Penghasilan sebagai penjual martabak, lanjut Rohman, memang tidak seberapa. Namun semangat Rohman untuk mengasah potensi anak keduanya dalam bidang karate tak pernah surut.

Nanda, ucap Rohman, menggemari karate sejak duduk di kelas TK nol besar. Potensi anaknya tersebut dipengaruhi oleh minat Nanda pada film laga Ultraman.


Rohman (kaos hijau) memangku anaknya, Nanda (Foto: Medcom.id/Pythag Kurniati)

"Sejak bayi suka nonton Ultraman," sahut Rohman sembari tertawa dan menunjukkan koleksi keping-keping kaset VCD film Ultraman di rumahnya.

Selama menggeluti karate, seringkali Nanda mengikuti berbagai kompetisi karate. Hanya saja, mereka sering terbentur biaya pendaftaran, transportasi dan akomodasi, lebih-lebih jika kompetisi digelar di luar kota. Sebab, keluarga Rohman hanya mengandalkan penghasilan berjualan martabak yang setiap hari tak pernah pasti jumlahnya.

"Kuncinya Nanda harus tahu tanggal kompetisi, minimal sebulan sebelumnya. Jadi kami bisa menabung lebih dahulu untuk bayar pendaftaran dan akomodasi. Nabungnya sedikit-sedikit. Sehari Rp20ribu," terang Rohman.

Selain kompetisi, Rohman mengaku perlengkapan karate tidaklah murah. Satu set perlengkapan mulai dari kostum hingga pelindung dan sabuk bahkan bisa mencapai Rp7 juta.

Namun bukan Rohman namanya jika menyerah pada mimpi anaknya menjadi juara karate. Perjuangannya sebagai tulang punggung keluarga tidak sia-sia. Meniti kompetisi demi kompetisi, Nanda pun akhirnya memenangi kejuaraan karate tingkat internasional di Herstal, Belgia.

Disiplin


Nandana dan ayah ibunya, membawa piala kejuaraan karate internasional di Belgia (Foto: Medcom.id/Pythag Kurniati)

Disiplin. Demikian Rohman mengungkapkan kunci kesuksesan anaknya. Di rumah, Rohman selalu menanamkan bahwa kedisiplinan penting untuk selalu diterapkan.

"Salat harus tepat waktu, begitu juga dengan latihan," ujar bapak dua anak tersebut.

Sejak meminta izin mengikuti karate, Rohman tak pernah khawatir anaknya menyalahgunakan karate untuk berkelahi. Sebab Nanda, akunya, adalah anak yang pintar, pengertian dan tidak neko-neko. 

"Kalau di rumah sering juga bantuin saya membeli bahan untuk jualan martabak," beber pria berusia 41 tahun itu sembari tersenyum.

Terus mengasah potensi Nanda dan menyekolahkan putranya hingga perguruan tinggi menjadi impian Rohman dan istrinya. Ia berharap, dari prestasinya suatu saat Nanda akan mendapatkan beasiswa hingga jenjang universitas.

Sang juara, Nanda, berkaca-kaca saat ditanya mengenai peran kedua orang tua dalam kesuksesannya. "Rasa terimakasih saya tidak bisa diungkapkan. Terimakasih, Ayah, Ibu, berkat kalian saya bisa juara di Belgia, semua tidak sia-sia," pungkasnya.