Asian Para Games 2018

Elsa Maris, Si Anak Mama

Kautsar Halim    •    09 Oktober 2018 19:57 WIB
Asian Para GamesBintang Arena Asian Para Games 2018
Elsa Maris, Si Anak Mama
Elsa Maris, peraih medali emas Indonesia di cabor Tenpin Bowling Asian Para Games 2018 (Foto: medcom.id/Kautsar Halim)

Jakarta: Target tim para-boling Indonesia untuk menyumbang satu emas di ajang Asian Para Games 2018 akhirnya tercapai. Prestasi itu diraih oleh Elsa Maris yang tampil di nomor tunggal putri TPB4 pada Selasa 9 Oktober.

Elsa memastikan gelar juara setelah mengumpulkan 1.186 poin. Di bawahnya ada Diane Neo Pei Lin (Singapura) yang meraih perak dengan torehan 1.033 poin dan Kim Yuna (Korea Selatan) yang menyabet perunggu dengan koleksi 1.003 poin.  

Bukan tugas mudah bagi Elsa untuk memenangkan pertandingan di Bowling Center Ancol tersebut. Ia sempat tertinggal pada game pertama sebelum akhirnya mampu bangkit dan mengejar ketertinggalan pada game selanjutnya.
 

Baca: David Jacobs, From Hero to Hero


Yel-yel dukungan para penonton di venue yang tidak memiliki tribun penonton itu sering terdengar untuk menyemangati Elsa. Namun, Elsa yang berusia 32 tahun tetap dingin dan berusaha fokus agar menang lebih cepat.

Hanya satu orang yang menjadi tempat mengadu ketika Elsa tertekan atau semringah dalam pertandingan. Dia bukan pelatih atau rekan setim, melainkan Hazada yang merupakan ibu kandungnya sendiri.

Hazada menjelaskan, Elsa memang tidak bisa jauh dari ibunya. Dia bahkan harus mendampingi ke mana saja, termasuk menjalani pelatnas yang berlangsung sekitar sembilan bulan di Solo, Jawa Tengah.

Elsa termasuk dalam kategori penyandang disabilitas tunagrahita. Selain intelektualnya terganggu, dia juga memiliki masalah pendengaran. Namun menariknya, Elsa masih bisa berkomunikasi dengan gaya bahasa yang khas dengan ibunya.

"Elsa memang lebih mengerti bahasa saya ketimbang orang lain. Makanya, saya selalu mendampingi dia terus," kata Hazada seusai pertandingan.


(Elsa Maris (dua dari kanan) berpose dengan keluarganya usai meraih emas di nomor Tenpin Bowling Asian Para Games 2018. Foto: medcom.id/Kautsar Halim)

"Demi Elsa, saya ikut dia pelatnas di Solo selama kurang lebih sembilan bulan. Jadi, ketika dia tidur di hotel, saya tinggal indekos," tambahnya.

"Hampir setiap hari dalam seminggu, saya berada di sisinya. Itu sengaja dilakukan agar dia bisa fokus latihan dan bisa menjadi juara seperti saat ini," lanjut Hazada. 

Waluyo sebagai pelatih tim para-boling Indonesia juga turut bercerita tentang sosok Elsa. Ia tidak memungkiri bahwa Elsa punya kekurangan dan harus ada upaya lebih untuk berkomunikasi. Namun, sisi positif Elsa tetap jauh lebih besar ketimbang kekurangannya. 

"Elsa orangnya cuek. Dia tidak pernah merhiraukan temannya selama pelatnas di Solo. Kami ajak bergurau saja, dia tetap diam. Tapi giliran dia duluan yang mengajak bercanda, kami pasti  ditanggapinya," tutur Waluyo yang sudah melatih Elsa dalam setahun belakangan ini.

"Meski begitu, dia mau berbagi pengalaman dan teknik bermain kepada teman-temannya. Situasi seperti ini malah membuat motivasi temannya saat berlatih bersama. Selain itu, tugas saya sebagai pelatih juga sedikit terbantu," tambah Waluyo.

Elsa merupakan anak didik Waluyo yang paling senior di dalam skuat para-boling Indonesia. Dia juga dianggap atlet yang paling berpotensi menyumbang emas karena kesehariannya memang murni sebagai peboling. Jika tidak ada pelatnas, biasanya Elsa berlatih dengan orang-orang normal atau membela provinsi Sumatera Selatan yang merupakan daerah asalnya.

"Kalau atlet-atlet kami yang lain berbeda. Soalnya, kebanyakan dari mereka sudah jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan berkesibukan juga sebagai pekerja kantoran. Kalau Elsa memang murni hanya bermain boling. Makanya perkembangannya sangat baik," papar Waluyo.
 

Baca juga: Atlet Judo Indonesia Didiskualifikasi karena Hijab, Siapa yang Salah?


Asian Para Games 2018 adalah prestasi pertama Elsa di level Asia. Namun, dia sudah sering menjuarai event-event bergengsi internasional. Sebelum ini, Elsa sukses memboyong empat medali emas di kejuaraan World Para Bowling Tour 2018 Malaysia.  

Perjuangan Elsa belum berakhir lewat Asian Para Games 2018. Ia optimistis Elsa bakal tampil lagi di ASEAN Para Games 2019 Filipina dan Peparnas 2020 Papua. Menanggapi pentingnya peran sang ibu dalam perkembangan karier Elsa, Waluyo pun berencana merekrut Hazada sebagai ofisial tim para-boling Indonesia.

"Berhubung Elsa harus kemana-mana sama mamanya, kemungkinan besar ibunya akan kami rekrut sebagai anggota tim. Tugasnya nanti hanya menyampaikan masukan dari pelatih dan menemani Elsa setiap bertanding," tutup Waluyo.

Setiap Elsa tampil memang selalu ada Hazada di belakangnya. Namun, anggota keluarga yang lain seperti kakak laki-laki atau ayahnya juga tidak ketinggalan mendukung jika mendapat kesempatan. Mereka semua pun larut dalam kebahagiaan ketika Elsa memastikan kemenangan.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: ?Istiqomah Berhijab, Miftahul Jannah Beralih Jadi Pecatur



(ACF)