Hadiri Petemuan Anti-Doping Internasional, Indonesia Tunjukkan Keseriusan kepada WADA

Rendy Renuki H    •    27 September 2017 00:44 WIB
olahraga
Hadiri Petemuan Anti-Doping Internasional, Indonesia Tunjukkan Keseriusan kepada WADA
Sesmenpora Gatot S Dewa Broto saat menjadi delegasi Indonesia dalam pertemuan anti-doping internasional di Paris, Prancis, 25-26 September (Dok. Humas Kemenpora)

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia menunjukkan keseriusan mendukung pemberantasan doping kepada Badan Anti Doping Dunia (WADA). Salah satunya dengan menghadiri pertemuan anti-doping international di markas UNESCO, Paris, Prancis, 25-26 September.

"Kehadiran kami di Prancis ingin menunjukkan keseriusan Indonesia melakukan tindakan anti doping sesuai dengan aturan WADA. Indonesia tidak ingin kejadian 2015 dan 2016 terulang, di mana LADI (Lembaga Anti Doping Indonesia) dianggap menggunakan laboratorium pengujian domestik untuk pengetesan sampel yang tidak diakui oleh WADA," kata Sesmenpora Gatot S Dewa Broto yang menjadi perwakilan Indonesia di pertemuan itu dalam rilis yang diterima, Selasa (26/9/2017).

Pada pertemuan yang melibatkan UNESCO dan WADA, Indonesia diwakili Kemenpora, Deputi Kepala BNN Bidang Hukum dan Kerja sama Arif Wicaksono,  Guru Besar UNJ yang juga anggota LADI Prof Dr James Tangkudung serta beberapa  pejabat dan staf Kemlu RI, BNN dan  LADI.

Selain menunjukkan keseriusannya memberantas doping, lanjut Gatot, Indonesia juga ingin memperoleh up date informasi dan pengalaman dari banyak negara dan khususnya WADA dalam berjuang mengatasi maraknya penggunaan zat doping. Apalagi, Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games dan Asian Paragames 2018.

(Baca: Satlak Prima Minta Pengurus Cabor Sampaikan Kebutuhan Asian Games)


"Koordinasi dengan WADA dan Komisi Anti Doping OCA harus kita tingkatkan demi meminimalisir kemungkinan munculnya persoalan doping dalam event Asian Games dan Asian Paragames 2018," kata mantan Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora itu.

Sekembalinya ke Indonesia, kata dia, Kemenpora bersama BNN dan Kementerian Kumham serta Kemlu serta para pihak akan duduk bersama menindak lanjuti hasil konvesi UNESCO itu, mengingat saat ini zat / materi doping dengan narkoba beberapa di antaranya saling bersinggungan destruktif dampaknya.

Kemenpora akan terus mendorong para pihak, atlet, pelatih, pengurus cabang olahraga terus menerus memberikan pemahaman tentang doping karena setiap waktu terjadi pergantian atlet. Untuk itu diperlukan edukasi berkesinambungan baik oleh LADI maupun induk organisasi olahraga masing-masing.

"LADI wajib lebih aktif melakukan sosialisasi kepada seluruh cabor dengan berbagai cara, termasuk penggunaan layanan internet yang mudah diakses secara real time dimana pun berada. Kebijakan yang paling mendasar dari WADA adalah memberi penghargaan pada pihak mana pun yang berani menjadi justice collaborator dengan data valid dan akurat di tengah makin canggihnya teknologi untuk memanipulasi doping," terang Gatot.

Fenomena penggunaan zat doping tidak hanya terjadi pada atlet, tetapi juga sejumlah kelompok anak muda maupun atlet usia muda. Bagi Indonesia masalah doping memang menjadi konsentrasi mengingat Indonesia baru saja terbebas dari sanksi WADA.

Pencabutan  sanksi tersebut didasarkan atas langkah-langkah perbaikan yang dilakukan pemerintah dalam hal ini Kemenpora bersama dengan LADI.

Video: Tour de Banyuwangi Ijen 2017 Resmi Dibuka
 


(REN)