Bintang PON 2016

Eka Purnama Indah: Tergelincir untuk Bangkit

Kautsar Halim    •    22 September 2016 12:40 WIB
pon 2016
Eka Purnama Indah: Tergelincir untuk Bangkit
Eka Purnama Indah. (Foto: Mtvn/ Kautsar Halim)

TERNYATA benar adanya jika kegagalan itu hanyalah kesuksesan yang tertunda. Pasalnya, hal itu dialami langsung oleh atlet loncat indah Kalimantan Selatan, Eka Purnama Indah. Mulai dari cedera, hingga kalah secara memalukan, sudah pernah ia lalui sebelum akhirnya merebut medali emas PON 2016 Jawa Barat, Rabu 21 September.

Dalam kesempatan wawancara ekslusif bersama Metrotvnews.com, Eka tak segan bercerita banyak tentang pahit manisnya kehidupan seorang atlet loncat indah. Bahkan, perjalanan kariernya tersebut sudah dimulai sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Bukan Loncat Indah
Eka memang mengaku sudah menggeluti loncat indah sedari duduk di bangku sekolah dasar kelas empat. Namun pada awalnya, atau tepatnya ketika masih duduk di kelas 2 SD, Eka merupakan atlet senam. Ia baru putar haluan setelah didorong oleh berbagai pihak, termasuk orang tuanya yang merupakan guru olahraga.

Kecintaan Eka terhadap loncat indah baru muncul beberapa tahun kemudian atau ketika ia berhasil menjadi juara pertama dalam salah satu turnamen nasional kelompok usia di Jakarta. Sejak saat itu, Eka mulai yakin bahwa loncat indah adalah jalan hidupnya.

"Kejuaraan di Jakarta itu adalah turnamen pertama saya. Perasaannya setelah menang di sana berhasil membuat saya semangat kembali ke Kalimantan untuk berlatih lebih giat lagi. Itulah yang membuat saya akhirnya memilih loncat indah," ujar Eka.

Bak gayung bersambut, bakat alami Eka akhirnya terendus oleh Sekolah Olahraga Ragunan ketika ia duduk di kelas 2 SMP. Tawaran untuk pindah ke Jakarta langsung didukung kuat oleh pihak keluarga, dan Eka bisa mendapat fasilitas yang memadai untuk melebarkan sayapnya di Jakarta.

Tergelincir dan Bangkit
Eka bukan nama baru di kancah loncat indah nasional. Wanita berusia 33 tahun itu merupakan atlet langganan pelatnas dan telah mengecap berbagai prestasi yang menawan. Sayang, sebuah kegagalan pahit membuatnya mundur membela Tanah Air.

Secara keseluruhan, Eka sempat bergabung bersama pelatnas sekitar enam tahun, yakni 2001 -- 2002, 2007 -- 2008, 2009 -- 2011, dan 2013 -- 2015. Dalam kurun waktu tersebut, Eka pernah mengukir sejumlah prestasi bergengsi, di antaranya meraih perunggu di ajang SEA Games Myanmar, menyabet medali emas Kejuaraan Loncat Indah Asia 2007, serta diikutsertakan membela Indonesia pada Olimpiade 2000 Australia. 

“Ada dua event istimewa dalam hidup saya. Pertama, ketika saya merebut dua medali emas lewat Kejuaraan Loncat Indah Asia 2007 di Indonesia. Kedua, ketika bertanding di Olimpiade 2000 Australia. Saat itu, meskipun tidak merebut medali, saya jadi tahu bagaimana rasanya bertanding sambil disorot media dan kamera yang banyak sekali. Pengalaman waktu itu benar-benar paling wah,” kenang Eka. 

Saking banyaknya prestasi, Eka sempat kesulitan memilih momen ketika ditanya lebih lanjut tentang pengalaman paling manis sebagai peloncat indah. Namun, lain halnya ketika ditanya seputar kegagalan. Pasalnya, hanya satu momen saja yang terngiang dalam pikirannya hingga saat ini, yaitu SEA Games 2015 Singapura.

“Pelontar kaki saya ketika melakukan loncatan di event itu (SEA Games 2015) terlalu ke depan, jadi saya tidak punya ruang lagi untuk menapakkan kaki selanjutnya. Itulah yang akhirnya membuat saya tergelincir dan jeblos ke bawah. Persiapan tampil saat itu sebenernya sudah matang dan kegagalan itu memang terjadi karena kesalahan saya yang kurang konsentrasi,” ujar Eka menceritakan pengalaman pahitnya.

Ya, Eka memang gagal secara memalukan dan memilih mundur dari Pelatnas setelah SEA Games 2015. Namun keputusan itu tidak menjadikannya minder dari loncat indah. Justru kebalikannya, diam-diam Eka tetap berlatih keras dengan tim Kalimantan Selatan di Malaysia hingga akhirnya mampu membalas kegagalan itu lewat PON 2016.

“Sekarang, loncatan yang gagal waktu SEA Games 2015 malah berhasil mendongkrak nilai pada PON kali ini. Loncatan itu benar-benar saya lakukan dengan gerakan yang sama dan dilakukan pada kesempatan keempat. Kemudian medali emas ini juga saya peroleh dengan lutut yang masih cedera ketika latihan,” ucap Eka.

Wanita Biasa
Di balik padatnya jadwal latihan, Eka tetap menjalani kehidupan layaknya wanita pada umumnya. Ia sudah memiliki keluarga kecil, senang bersosialisasi dengan teman-teman dan bahkan sedang melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Namun pada pelaksanaannya, semua keinginan itu tetap harus dipilih salah satu agar bisa terselesaikan dengan baik. Sementara ini, target Eka memang ingin kembali berprestasi di loncat indah.

“Di luar kolam, saya juga sedang kuliah lagi di UNJ. Tapi, karena harus mempersiapkan diri untuk PON, saya terpaksa tidak aktif kuliah dalam setahun belakangan,” tutur Eka.

“Selain itu, saya juga masih suka nongkrong sama teman seperti ngopi atau jalan-jalan ke mall untuk nonton. Namun kalau ada waktu luang lebih banyak, biasanya saya juga pergi travelling. Saya suka banget travelling. Travelling yang benar-benar liburan dan paling jauh untuk saya adalah ke Thailand,” tambahnya. 
 
Medali untuk Kembali
Medali emas yang diperoleh Eka dalam ajang PON 2016 Jabar bukan hanya hiasan prestasi belaka. Pasalnya, ia masih berharap bisa membela Indonesia lagi di masa mendatang. Eka berharap, medali itu bisa menjadi bukti bahwa ia sudah bangkit dan bisa diandalkan lagi.   

“Habis PON 2016 biasanya ada evaluasi dari sejumlah pihak. Dari situ, saya baru bisa pertimbangkan masa depan ini mau dibawa kemana. Kalau bicara tentang harapan, saya masih ingin dibutuhkan lagi di pelatnas entah itu jadi atlet atau staf pelatih,” tutup wanita kelahiran Banjarmasin 27 Mei 1983 tersebut.

Video: Jabar Raih Emas di Cabor Pencak Silat




(ASM)

Euforia Jelang Upacara Penutupan PON 2016
Upacara Penutupan PON 2016

Euforia Jelang Upacara Penutupan PON 2016

2 hours Ago

Upacara penutupan Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 dijadwalkan Kamis 29 September sekitar…

BERITA LAINNYA