Pembalap Bogor Juara Mens Elite IDH Seri 1

Rendy Renuki H    •    22 April 2018 23:05 WIB
balap sepeda
Pembalap Bogor Juara Mens Elite IDH Seri 1
Suasana balapan Indonesian Downhill Seri 1 2018 di Bantul, DIY Yogyakarta, Minggu (22/4) (Medcom.id/Ist)

Bantul: Pembalap asal Bogor, Yadi Mulyadi, berhasil menjadi juara di kelas Mens Elite ajang Indonesian Downhill seri satu 2018 di Bukit Hijau Bike Park, Imogiri, Bantul, DIY Yogyakarta, Minggu 22 April. Pembalap yang karib disapa Ateng itu finis terdepan dengan catatan waktu 2 menit 51.681 detik.

Tampil tenang menjadi resep kemenangan Ateng Mulyadi di final run kelas mens elite A. Hujan yang mengguyur sejak berlangsungnya final run kelas mens junior membuat peta persaingan berubah, karena lintasan menjadi licin dan berlumpur.

Meski sempat terjatuh dua kali akibat lintasan yang licin, Ateng masih meraih catatan waktu terbaik. Pembalap tim GOPAD itu bahkan mengaku catatan waktunya bisa lebih baik jika saja tidak terjatuh.

"Saya cukup terbiasa dengan hujan karena kalau latihan di Bogor sering hujan. Sebenarnya ada kesempatan untuk ganti ban, tapi saya meyakinkan diri untuk tidak ganti ban karena kalau kalau ganti ban karakter riding malah berubah," ujar pembalap 28 tahun tersebut lewat rilis yang diterima Medcom.id.

Klik: Tanpa Atlet Nasional, Persaingan IDH Seri 1 Terbuka Lebar


"Setelah jatuh, saya sempat berpikir paling hanya masuk lima besar. Tapi di pinggir trek banyak teman yang menyemangati dan bilang kalau lawan saya juga banyak yang jatuh," sambungnya.

Rival Ateng di kelas mens elite, Yoga Nugraha harus puas menempati posisi kedua dengan waktu 2 menit 55.936 detik. Padahal, Yoga sempat memimpin catatan waktu cukup lama dan sudah bersiap naik podium.

Sementara, turunnya hujan juga membuyarkan prediksi di kelas mens junior. Pahraz Salman Alparisi yang digadang bisa menjuarai kelas junior terkendala hujan yang turun di tengah lomba. Akibatnya, juara nasional downhill kelas junior ini hanya menempati peringkat 11.

"Saya sempat beberapa kali tergelincir karena sulit mengontrol sepeda di lintasan yang licin. Hasilnya, saya harus rela kehilangan banyak waktu pada balapan kali ini," ujar Pahraz usai lomba.

Pahraz hanya mencatat waktu 3 menit 31.808 detik pada kondisi hujan. Usai balapan, dia terlihat sangat kecewa. Hal itu sangat bisa dimaklumi karena saat seeding run dalam kondisi kering, Pahraz mencatat waktu lebih baik yakni 2 menit 16.205 detik yang merupakan rekor waktu tercepat di seeding run untuk semua kelas.

Pembalap asal Gunungkidul, Reno Satria, mendapat keuntungan dari kondisi cuaca yang tidak menentu. Turun pada saat cuaca panas, Reno mencatat waktu 2:27.863 dan menjadi yang tercepat, disusul oleh Melkisedek dan Muhammad Dava Rizki.

Di kelas master expert A, peraih medali emas SEA Games 2011, Pornomo, mewujudkan ambisinya meraih gelar juara setelah mencatat waktu tercepat 2 menit 37.068 detik, atau hampir dua detik lebih cepat dari Nur Warsito, yang mencatat waktu tercepat di seeding run.

"Saat Seeding Run, saya tidak bisa memaksimalkan hasil karena hanya konsentrasi pada rantai yang bermasalah. Tetapi sebelum babak final, semua kembali saya persiapkan lebih baik agar tidak ada kendala. Alhamdulillah bisa meraih gelar juara di kelas ini," kata Pornomo.

Indonesian Downhill Seri kedua akan berlangsung di Bukit Klemuk, Batu, Malang, pada 4-5 Agustus. Namun sebelumnya akan didahului oleh ajang IDH Urban Night Race yang rencananya digelar di Umbul Sidomukti, Semarang, 29-30 Juni.

 


(REN)