Profil Ni Nengah Widiasih: Lampaui Keterbatasan Demi Raih Prestasi

   •    15 Oktober 2018 16:01 WIB
Asian Para Games
Profil Ni Nengah Widiasih: Lampaui Keterbatasan Demi Raih Prestasi
?Ni Nengah Widiasih. (Foto: medcom.id/Kautsar Halim)

HIDUP dengan keterbatasan merupakan hal yang bisa saja terjadi pada seluruh manusia. Bagi mereka yang mengalami hal tersebut, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Semakin terpuruk atau justru bangkit.

Ni Nengah Widiasih adalah satu dari sekian banyak orang yang harus menjalani hidupnya dengan keterbatasan. Istilahnya penyandang disabilitas.  Dara kelahiran Karangasem, Bali, 12 Desember 1989 ini sejatinya lahir dalam keadaan normal. Namun, penyakit demam yang menderanya saat berusia empat tahun, menghancurkan impian Widi untuk tumbuh dan berkembang seperti layaknya orang-orang di sekitarnya.

Akibat suhu panas tubuhnya yang tak kunjung turun, meski keluarganya telah melakukan segala cara, Widi tak kunjung sembuh. Ia malah harus kehilangan fungsi kedua kakinya (lumpuh) dan akhirnya harus menjalani sisa hidup di kursi roda.

"Saya disuntik, tapi bukannya sembuh malah tambah sakit. Kaki saya terasa lemas, setelah kondisi membaik saya tetap tidak bisa berdiri. Hanya bisa duduk dan merangkak," Widi menceritakan kejadian pahit tersebut.

Lika-liku Menuju Kesuksesan
Awalnya, Widi tidak terlalu minder dengan kondisinya. Ia baru merasa tidak percaya diri ketika mulai bersekolah. Ia merasa tidak sama dengan teman-temannya yang bisa bergerak dengan leluasa, dan berlari kesana kemari.

Widi pun akhirnya berhenti sekolah dan melanjutkan pendidikannya di Yayasan Pembinaan Anak Cacat. Ia sempat dua tahun menetap di Yogyakarta, lalu kemudian kembali ke Bali dan bermukim di Yayasan Pembinaan Anak Cacat di Denpasar, Bali. Selama di Yayasan, biaya hidup dan pendidikannya berasal dari beasiswa.

Kembali ke tanah kelahirannya, Widi menjadi semakin optimistis menjalani segala kekurangannya. Kedekatan dengan keluarga menjadi salah satu faktor yang membuat dirinya tetap bersyukur atas apapun yang menimpanya.

"Saya tidak ingat pastinya (saat mendapati dirinya menyandang disabilitas), semua itu terjadi ketika saya masih berumur tigat ahun, jadi saya tidak tahu rasanya seperti apa. Tapi, seiring berjalannya waktu dan saya menyadari ini takdir dari Tuhan. Saya bersyukur punya keluarga yang mencintai dan mendukung saya, tidak pernah membuat saya berbeda dari keluarga lainnya, jadi saya menjalani semuanya normal," ujarnya kepada medcom.id.

Di tanah kelahirannya inilah Widi seakan menemukan kembali "hidup"-nya. Sang kakak I Gede Suantaka mulai mengenalkan Widi dengan dunia olah raga, khususnya angkat berat.

Peran Keluarga dan Pelatih di Balik Kesuksesan Widi
Ia kerap diajak ikut ke tempat latihan sang kakak yang juga atlet angkat berat. Meski awalnya hanya sekadar iseng, Widi akhirnya mulai serius menggeluti dunia atlet dan bangkit dari keterpurukan. Latihan serius pun dijalaninya. Tak tanggung-tanggung, ia berlatih empat hingga lima kali dalam satu minggu.

"Saya lupa seperti apa, saya memulainya dari kecil. Tapi, saya bersyukur punya keluarga dan pelatih yang selalu mengarahkan saya menjadi bisa seperti sekarang ini. Pelatih pertama saya di Bali namanya pak Ketut Midja, beliau yang melatih saya dari nol sampai sekarang kalo saya pulang ke Bali, beliau pelatih saya. Kalau di Pelatnas beda," kenangnya lagi.

Setelah sempat merasakan pahitnya kegagalan, kerja keras Widi akhirnya berbuah prestasi. Ia berhasil meraih medali emas di ajang Pekan Olahraga Penyandang Cacat (Popcat) dan kemudian dilanjutkannya dengan kembali menyabet emas pada Kejurnas di Solo tahun 2007. Saat itu, usia Widi baru 19 tahun.

Berkat prestasinya, Widi mulai dipercaya untuk tampil di ajangi nternasional. ASEAN Para Games 2008 di Nakhon Ratchasima, Thailand, menjadi debut internasional Widi. Ia langsung menandainya dengan merebut medali perunggu.

Setelah itu, peningkatan prestasi terus ditunjukkannya, Teranyar, ia sukses menyabet medali emas pada ASEAN Games 2017 di Malaysia dan membantu Indonesia keluar sebagai juara umum. Salah satu prestasi Widi yang paling membanggakan Indonesia adalah ketika ia tampil di Asian Para Games 2014 (Korsel) dan Paralimpiade 2016 di Brasil.

Di Korsel, Widi berhasil menyabet medali perak. Sementara di Paralimpiade yang notebene levelnya dunia, ia berhasil membawa #IndonesiaKalahkanBatas dengan merebut medali perunggu. Ia jadi satu-satunya atlet disabilitas Indonesia yang sukses merebut medali pada Paralimpiade Rio de Janeiro. 

Widi kembali mengharumkan nama Indonesia di Asian Para Games 2018. Bertarung di nomor 41kg putri, cabor angkat berat putri. Widi, sapaan akrabnya, memang diharapkan meraih podium, berkat modalnya meraih prestasi-prestasi bergengsi pada kompetisi-kompetisi sebelumnya.

Menjadi lifter terakhir, Widi bersaing dengan enam lifter putri lainnya di kelas 41 kg. Ia memegang entry beban terbesar yaitu 97kg pada angkatan pertama. Saingan terberat Widi adalah lifter asal Tiongkok, Cui Zhe. Ia memegang entry beban yang hampir sama denganWidi, yaitu 96 kg. Dari tiga kali percobaan angkatan, Widi memang hanya mampu mengangkat beban pertamanya yaitu 97 kg. Ia gagal pada dua percobaan setelahnya.

Sayang, Widi harus mengakui keunggulan Cui yang berhasil mengangkat 100kg pada angkatan ketiga. Hasil itu membuat medal iemas jatuh ke tangan Tiongkok.

Kegagalan meraih emas membuat Widi sedih dan kecewa. Ia merupakan sosok penuh tekad dan ambisi. Bisa dimaklumi memang, sebab ia telah berusaha keras memberikan yang terbaik, apalagi ajang Asian Para Games ini diselenggarakan di Indonesia.

"Jujur perasaan saya sedih sekali hari ini, sangat sedih. Tapi balik lagi, mungkin ini yang terbaik yang Tuhan berikan untuk saya dan terima kasih untuk segala doa dan dukungannya," lanjut dia.

Widi adalah bukti nyata betapa keterbatasan bukanlah halangan. Ia mampu mengalahkan batas dan membawa harum nama Indonesia di pentas internasional. Tidak ada kompromi atas rasa sakit di dalam kamus hidupnya. Menjadi juara merupakan target utama di tiap kejuaraan yang diikutinya.

"Menjadi juara. Setiap kejuaraan yang saya ikuti, saya harus bangga dengan apa yang saya capai karena saya tahu persis proses menjadi juara itu tidak mudah. Apalagi seperti sekarang, saya menjalani diet keras, latihan keras, sakit dan cedera pun tetap latihan keras. Saya tidak pernah mau kompromi dengan rasa sakit tersebut dan ketika saya bisa menjadi juara, apapun hasilnya, saya bangga dengan diri saya sendiri," tuturnya.

Semangat para atlet untuk meraih prestasi tentu patut diapresiasi. Pun begitu bagi OBH Combi yang mendukung atlet-atlet Indonesia yang berjuang di Asian Para Games dengan keterbatasan mereka. Termasuk Ni Nengah yang merupakan peraih medali pertama buat Indonesia pada pesta olahraga disabilitas se-Asia ini.

Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

Video: Apresiasi Atlet Asing untuk Indonesia


(ASM)